1.500 Penari Remo Cilik Merawat Budaya Lidah Wetan Surabaya
SR, Surabaya – Sebanyak 1.500 penari cilik tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) memadati jalanan menari remo massal di kegiatan Sedekah Bumi Lidah Wetan bertajuk “Kembalinya Jati Diri Diri Sembrani Nusantara”, Surabaya, Minggu (4/10/2026).
Bukan tanpa alasan, Ketua Panitia Andi Bocor menyebut, pementasan seni massal tersebut diadakan sebagai langkah nyata menjaga kelestarian tradisi khas Jawa Timur agar tak punah diterjang arus modernisasi.
Aksi menari bersama itu melibatkan pelajar dari setidaknya delapan institusi pendidikan yang tersebar di wilayah Lidah Wetan, Lidah Kulon, Babatan, hingga Wiyung, dengan jumlah peserta fantastis. Melonjak dari pementasan tahun sebelumnya yang diikuti oleh 1.000 penari menjadi 1500 penari.
Andi menegaskan, pemilihan tarian tradisional remo mengandung filosofi penyucian serta perlindungan terhadap warisan leluhur. Menurutnya, pementasan ini menjadi sarana membentengi kebudayaan lokal dari ancaman kepunahan.

“Kenapa harus Remo, ya karena ini bagian dari merawat, uri-uri. Supaya giat seni, sosial, dan budaya kita tidak sampai tergerus habis,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa proses regenerasi seniman tradisional harus ditanamkan sejak usia sedini mungkin agar karakter kebudayaan daerah mengakar kuat. Tanggung jawab para tokoh masyarakat adalah memfasilitasi anak-anak sebagai penerus masa depan.
“Seni Remo ini tak mungkin banyak diajarkan kepada orang dewasa. Tujuan kita yang tua-tua ini harus merawat, dan merawat itu tentu dimulai dari yang kecil,” tuturnya.
Di tengah riuhnya suasana pergelaran, semangat tinggi dipancarkan oleh salah satu penari cilik dari SDN Lidah Wetan II, Anindita Nurzaira (10). Siswi yang sudah terbiasa mengikuti berbagai ajang perlombaan tari ini mengaku bangga bisa unjuk kebolehan bersama ribuan rekannya.
Meski harus menjalani masa latihan yang intensif di sanggar selama kurang lebih satu bulan, Anindita menganggap momen menari di ruang terbuka ini sebagai pengalaman berharga.
Pengalaman bertanding sebelumnya membuat proses adaptasi serta persiapan teknis akhir sebelum naik panggung berlangsung sangat singkat. “Perasaannya itu kayak senang tapi agak-agak capek, soalnya agak lama,” jelasnya.

Anindita membeberkan bahwa latihan berat dan durasi pentas yang panjang sempat menguras stamina para peserta cilik di lokasi. Ia pun menyuarakan harapan sederhana agar pementasan tarian tradisional pada masa mendatang dapat dijadwalkan lebih awal demi kenyamanan peserta. “Harapannya biar acaranya enggak terlalu siang,” ungkapnya.
Antusiasme serupa ditunjukkan oleh Prita Syafira Qairina (10), murid SDN Lidah Wetan yang juga tampil energik di barisan depan. Bagi Prita, melangkahkan kaki dan menggerakkan jemari membawakan Tari Remo telah menjadi hobi yang memikat hatinya sejak lama.
Ia mengaku tidak menemukan kesulitan berarti dalam menguasai ragam gerak tari Jawa Timuran tersebut karena dorongan rasa senang. Kebersamaan dengan ribuan kawan sebaya menjadi daya tarik utama yang membuatnya ingin terus terlibat. “Karena seru dan hobiku memang menari. Yang paling disukai itu karena narinya bareng-bareng,” jelasnya. (hk/red)
Tags: lidah wetan, sembrani nusantara, superradio.id, tari remo, tradisi
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





