Ida Gede Martayasa Tautkan Titik Nol Bali di Lidah Wetan Surabaya
SR, Surabaya – Suasana khidmat mewarnai kawasan Lidah Wetan, Surabaya, pada Minggu (4/10/2026), saat ribuan warga memadati jalur kirab kebudayaan bertajuk “Kembalinya Jati Diri Sembrani Nusantara”.
Di tengah gema gamelan, semarak tari Remo, dan ritual penyatuan air suci, sosok priyayi spiritualis asal Bali, Ida Gede Martayasa, melangkah penuh rasa syukur.
Kehadirannya dalam helatan sakral ini bukan sekadar memenuhi undangan kebudayaan, melainkan membawa misi spiritual mendalam untuk menautkan kembali simpul-simpul energi Nusantara dari titik nol Pulau Dewata menuju tanah Jawa.
Lahir pada 27 Januari 1966, pria berusia 61 tahun ini berasal dari Desa Kembang Merta, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sejak usia kanak-kanak, Ida Gede Martayasa telah aktif menempa diri dan mengabdikan hidupnya dalam berbagai kegiatan adat serta spiritualitas Bali.
Tumbuh di kawasan Baturiti-Bedugul yang menjadi pusat geografis Pulau Dewata yang diapit oleh tiga gunung sakral dan tiga danau yang batinnya terasah untuk memahami air sebagai sarana utama penyucian dan sumber energi kehidupan.

Dalam prosesi penyatuan tujuh mata air suci di pelataran Gedung Serbaguna Suryo Broto Lidah Wetan, Ida Gede Martayasa membawa secara khusus mata air yang diambil langsung dari titik nol Bali. Langkah ini mengandung filosofi mendalam baginya tentang siklus kehidupan manusia dan kebangkitan suatu daerah.
“Saya bawa dari nolnya Bali. Kebetulan saya ada di titik nolnya Bali. Dulu penyatuan air juga di titik nolnya Bali. Karena kita melangkah dari nol akan kembali ke nol… Mudah-mudahan di sini juga menjadi nolnya Surabaya dan mulai bangkitnya Surabaya,” tuturnya saat menjelaskan makna filosofis di balik air yang dibawanya.
Pemahaman mendalam Ida Gede Martayasa mengenai pentingnya air berakar dari filosofi tradisi Bali yang kerap disebut sebagai ‘agama tirta’ atau agama air. Bagi pria asal Tabanan ini, upacara sekecil hingga sebesar apa pun di Bali tidak pernah terpisahkan dari sarana penyucian air.
“Karena upacara air itulah sebagai pembersih, sebagai energi yang paling utama. Itu semua bersumber dari air akan kembali ke air. Karena di air ini ada lima energi atau yang disebut dengan lima elemen kita dan lima elemen alam semesta,” ungkapnya.
Tradisi penyatuan air suci berskala besar sejatinya bukan hal baru bagi Ida Gede Martayasa. Pada Oktober 2024 lalu, ia pernah memprakarsai ritual serupa tingkat dunia dengan menghimpun 362 mata air suci di Bali.
Ketika menyaksikan prosesi penyatuan air di Lidah Wetan yang dilanjutkan dengan kirab bendera sepanjang 200 meter menuju Tugu Ayam Jago, rasa bangga membuncah di dadanya.
Ia meyakini bahwa ritual sakral penyatuan air menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali warisan leluhur sekaligus memohon perlindungan dari berbagai marabahaya dan bencana bagi bangsa.

Di tengah semarak orasi kebudayaan dan gerakan kolosal 1.500 penari Remo, Ida Gede Martayasa menegaskan harapannya agar gelombang spiritualitas di Surabaya ini menular ke seluruh pelosok tanah air.
“Di sini juga saya merasa bangga sekali. Bangga adanya penyatuan air sama dengan kita membangkitkan menyatukan kembali gimana warisan leluhur kita… Nusantara ini pun akan bangkit karena air ini akan selalu menghubungkan di Nusantara ini kita diitari oleh air, kita dipagari oleh air,” ujarnya penuh kekhusyukan.
Perhelatan “Kembalinya Jati Diri Sembrani Nusantara” di Lidah Wetan sendiri sukses menyedot perhatian publik luas, mulai dari warga lokal hingga delegasi internasional seperti UNESCO Kiva International.
Kehadiran Ida Gede Martayasa beserta mata air suci dari Bedugul kian memperkokoh kesakralan prosesi yang diakhiri dengan penancapan tujuh bendera keraton dan pengibaran Merah Putih.
Rangkaian acara di Lidah Wetan akhirnya purna, namun pesan spiritual yang dibawakan Ida Gede Martayasa terus bergetar. Dari Desa Kembang Merta di Baturiti hingga bumi Surabaya, perjalanannya menegaskan bahwa air dan tradisi leluhur adalah tali pengikat utama keragaman Nusantara. (js/red)
Tags: air suci, lidah wetan, sembrani bumi, spiritual bali, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





