Mengenal Sejarah Halalbihalal, Tradisi Lebaran Khas Indonesia

Yovie Wicaksono - 3 May 2022

SR, Surabaya – Indonesia memiliki beragam tradisi saat lebaran, mulai dari mudik hingga halalbihalal. Pakar budaya Universitas Airlangga (Unair) Puji Karyanto mengatakan, halalbihalal secara kebudayaan memang khas Indonesia yang merupakan turunan dari silaturahmi.

“Kalau kita lihat secara umum ini memang khas kita, kan sama dengan tradisi mudik itu juga khas kita,” ungkapnya. 

Puji menjelaskan, halalbihalal sebenarnya merupakan ekspresi rasa keguyuban antar kerabat yang bertemu saat momen lebaran. Ia menyebut halalbihalal awalnya hanya sebagai tradisi keluarga atau tradisi masyarakat yang kemudian diformalkan oleh orang-orang di sebuah instansi.

“Jadi semacam melembagakan tadinya yang sudah ada di masyarakat, antar kerabat, antar keluarga yang kemudian dilembagakan oleh kawan-kawan yang ada di instansi,” tuturnya.

Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) itu menjelaskan, konsep halalbihalal merupakan turunan dari konsep silaturahmi. Ia menuturkan, awalnya, silaturahmi terjadi antar kerabat. Tetapi karena orang-orang kota maunya praktis, waktunya efektif, maka diadakan model halalbihalal. 

Lebih lanjut, Puji menuturkan terkait kapan munculnya nama halalbihalal diperlukan penelitian sejarah yang lebih mendalam. Berkaitan dengan hal itu telah muncul banyak asumsi atau cerita dengan versi yang berbeda-beda mengenai kapan munculnya nama halalbihalal. Tetapi menurutnya, jika membaca literatur yang ada sifatnya masih sporadis yaitu pendapat-pendapat yang belum ada riset sejarah yang baku.

“Sebelum ada nama halalbihalal, tradisi itu sudah ada sebenarnya. Cuma, menjadi nama halalbihalal itu mulai kapan waktunya, tentu saja butuh penelitian sejarah yang sungguhan,” tuturnya.

Asumsi Munculnya Nama Halalbihalal

Puji menyebut ada tiga asumsi mengenai munculnya nama halalbihalal yang berkembang di masyarakat. Pertama, paling banyak diyakini di masyarakat yaitu halalbihalal merupakan inisiasi KH Wahab Chasbullah yang mencoba mendamaikan beberapa tokoh politik nasional. Para tokoh tersebut dikumpulkan pada sebuah forum yang bertepatan dengan momentum lebaran.

Kedua, jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada kata halalbihalal yang munculnya di Solo dari pedagang martabak di pasar malam Solo. Dan ketiga, ada yang berbicara bahwa bentuknya sudah ada tapi belum bernama halalbihalal melainkan modelnya seperti open house yang muncul pada saat Pangeran Samber Nyowo berkuasa.

Berdasarkan adanya asumsi-asumsi yang berkembang di masyarakat itu, Puji menegaskan bahwa menentukan kapan waktu pasti munculnya nama halalbihalal memerlukan penelitian mendalam.

“Tetapi yang jelas kata halalbihalal itu sudah masuk dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dan diartikan di sana. Berarti maknanya kan, ini sudah merupakan bagian dari tradisi yang ada di Nusantara,” ungkapnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.