Masuki Rutan Medaeng, Crossline Merangkul Jiwa yang Merindukan Pemulihan

Rudy Hartono - 1 November 2026
Para relawan Crossline bersama Pendeta Stevan Kurniawan saat memberikan pelayanan rohani bagi Warga Binaan Pemasyarakatan bergama nasrani di Rutan Medaeng, Sabtu (31/10/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Latar belakang jeruji besi yang dingin dan kokohnya tembok tahanan mendadak hangat di dalam Gereja Efesus, Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026) pagi.

Pencahayaan panggung yang berpendar lembut dengan sorot lampu latar kebiruan menerangi puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang duduk tertib di atas kursi-kursi berbaris berwarna biru.

Diiringi alunan nada kibor, lirik pujian “Yesus Kau Yang Tak Pernah Jemu-Jemu di Sisiku” terpampang di layar televisi di bawah salib bercahaya, menciptakan atmosfer kekhusyukan dan pemulihan jiwa.

Warga Binaan Pemasyarakatan Bergama Nasrani di Rutan Medaeng antusias ikut menjalani doa bersama yang didampingi komunitas Crossline, Sabtu (31/10/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Hadir di tengah WBP Rutan, komunitas Crossline gerakan rohani bergenre underground dengan jargon “Sahabat Orang Berdosa”. Selain menghibur, komunitas yang juga berkomitmen menjadi relawan gereja membersamai WBP kristiani dalam doa bersama.

Mengenakan kaus hitam khas bertuliskan “Crossline”  dan “Sahabat Orang Berdosa”, juga topi, serta kacamata, mereka berdiri penuh semangat di depan mimbar. Layar besar di sudut ruangan menyambut mereka dengan tulisan “Welcome Crossline Wishing A Blessed Service“. Sambutan hangat dan sederhana itu meruntuhkan sekat-sekat status sosial dan menyatukan semua yang hadir dalam sebuah persaudaraan yang berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB.

Puncak keharuan menyelimuti ruangan ketika beberapa pria warga binaan berkaus biru tampak memejamkan mata, merapatkan kedua tangan di dada, serta menadahkan tangan sambil mengangkat wajah tenggelam dalam doa, pengampunan dan pengharapan.

Pelayanan rutin bagi WBP Rutan Medaeng ini membawa pesan mendalam bahwa tempat terisolasi sekalipun tak sanggup membatasi jamahan kasih Tuhan. Pendeta Stevan Kurniawan menegaskan bahwa esensi utama dari kunjungan Crossline adalah menyampaikan kepastian kasih tanpa syarat bagi setiap orang.

Warga Binaan Pemasyarakatan Bergama nasrani khusyuk berdoa memejamkan mata saat menjalani doa di Gereja Efesus, Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026) pagi. (foto: vico wildan/superradio.id)

“Puji Tuhan. Hari ini kami ingin menegaskan kepada seluruh saudara-saudara kita di Rutan Medaeng bahwa jeruji besi dan masa lalu bukanlah penghalang bagi kasih Tuhan untuk menjangkau mereka. Ruangan ini boleh dibatasi tembok dan jeruji, tetapi kebebasan rohani dan pengampunan itu mutlak milik setiap jiwa yang mau membuka hati,” ujar pendeta muda itu.

Sementara itu bagi pendiri sekaligus Ketua Umum Crossline Family, Jack Temaluru menyatakan pelayanan di dalam rutan merupakan perwujudan nyata dari komitmen mereka untuk meruntuhkan stigma negatif masyarakat. “Seperti yang kami tuliskan di kaos yang kami kenakan hari ini ‘Sahabat Orang Berdosa’ bahwa kami ingin meruntuhkan stigma dan sekat-sekat sosial. Kami datang bukan untuk menghakimi, melainkan hadir sebagai saudara dan sahabat bagi mereka,”  kata pria yang akrab disapa Bang Jack itu.

Ia pun mengaku mengaku sangat tersentuh melihat antusiasme dan kejujuran emosi dari para penghuni rutan yang larut dalam momen ibadah tersebut. “Energinya sangat hidup dan menyentuh hati, melihat tangan-tangan yang terangkat, mata yang terpejam khidmat dalam doa, itu bukti nyata bahwa kerinduan untuk bertumbuh dan merasakan jamahan kasih itu hidup di dalam sini,” tutur pria terlahir 44 tahun lalu itu.

Bang Jack menambahkan bahwa kehadiran Crossline bukan sekadar kunjungan seremoni, melainkan upaya memantik pemulihan sejati yang berdampak jangka panjang.  “Harapan kami sederhana, kehadiran Crossline bisa membawa pemulihan sejati, membangkitkan pengharapan baru, dan kelak saat mereka kembali ke masyarakat, mereka membawa lembaran hidup yang jauh lebih baik,” tambahnya.

Warga Binaan Pemasyarakatan Bergama Nasrani di Rutan Medaeng antusias ikut menjalani doa bersama yang didampingi komunitas Crossline, Sabtu (31/10/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Komitmen Dampingi Kaum Marjinal

Mengenai komunitas Crossline, kumpulan ini berdiri sejak 2005 dan terus konsisten mendampingi kaum marjinal lewat prinsip “Do It Yourself” (DIY).  Crossline ingin membuktikan bahwa pemulihan jiwa selalu dimulai dari penerimaan yang tulus.

Dampak dari kehangatan pelayanan ini dirasakan langsung oleh Ricaldo (31), salah satu jemaat warga binaan di Rutan Medaeng. Dengan nada bicara yang jujur dan penuh keharuan, ia mengungkapkan betapa ibadah bersama Crossline telah memberikan kekuatan baru di tengah masa penderitaan yang sedang dijalaninya.

“Ibadah hari ini benar-benar menyentuh hati saya secara pribadi. Pesan yang disampaikan membuat saya sadar bahwa Tuhan punya rencana lain yang indah di balik semua proses berat ini. Terima kasih kepada komunitas Crossline yang sudah meluangkan waktu dan peduli pada kami di sini; kehadiran kalian adalah berkat yang luar biasa,” ungkap Ricaldo.

Relawan Crossline memandu doa diiringi musik kibor membersamai Warga Binaan Pemasyarakatan Bergama Nasrani di Rutan Medaeng, Sabtu (31/10/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Atmosfer ibadah kian menggelora saat Gilbert seorang melantunkan pujian yang berkaus hitam dan topi bucket hat mengajak seluruh jemaat berdiri dan bernyanyi bersama . Tanpa ada sekat antara pelayan Tuhan dan warga binaan, semua menyatukan suara dalam gelora pujian yang interaktif dan penuh energi positif. Kebersamaan di balik tembok rutan ini menjadi bukti bahwa di tempat yang sering kali dianggap gelap, benih pengharapan dan persaudaraan justru tumbuh mekar.

Ketika ibadah berakhir pada pukul 11.30 WIB, senyum dan jabat tangan hangat saling bertukar di antara anggota Crossline dan para warga binaan. Jeruji besi dan tembok tebal Rutan Medaeng memang masih mengurung fisik mereka, tetapi siang itu, jiwa-jiwa di dalamnya telah merasakan kemerdekaan sejati dari sebuah kepastian bahwa masa lalu yang kelam tak akan pernah sanggup merenggut masa depan yang penuh harapan.(js/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.