Malam Paskah di Bangkalan. Simbol Berkat di Era Digital.

Yovie Wicaksono - 4 April 2026
Prosesi Penyalaan Lilin Paskah di Gereja Katolik Maria Fatima Bangkalan, Sabtu (4/4/2026). Foto : (Super Radio/Nur Ifa)

SR,Bangkalan – Kegelapan total menyelimuti Gereja Katolik Paroki Maria Fatima Bangkalan, Sabtu (4/4/2026) malam. Namun, kesunyian mencekam yang tersisa dari Jumat Agung itu tak bertahan lama. Sebuah api suci dinyalakan, memecah pekatnya malam di bumi Madura.

Dari satu sumber api pada Lilin Paskah yang besar, cahaya berpindah ke lilin-lilin kecil yang digenggam ratusan umat. Perlahan tapi pasti, ruang gereja yang tadinya gelap gulita berubah menjadi lautan cahaya yang hangat.

Upacara Cahaya ini menandai dimulainya Vigili Paskah, malam tirakatan paling suci bagi umat Katolik untuk menyambut kebangkitan Yesus Kristus.

Suasana Vigili Paskah di Paroki Maria Fatima, Bangkalan, Sabtu (4/4/2026). Foto : (Super Radio/Nur Ifa)

Ketua Panitia Paskah, Yosep Raymon Anggoro, menyebut momen ini sebagai visualisasi paling kuat tentang harapan. Di Bangkalan yang majemuk, ratusan titik api tersebut menjadi simbol harmoni dan semangat baru.

“Paskah adalah kemenangan. Cahaya ini dibagikan ke seluruh umat sebagai simbol bahwa terang telah datang menghalau kegelapan dalam hidup kita,” ujar Raymon dengan nada penuh semangat kepada Super Radio.

Tak hanya api, air juga menjadi pusat perhatian malam itu. Dalam upacara pembaruan janji baptis, umat diperciki air suci sebagai lambang pembersihan diri dan lahirnya iman yang baru.

Air yang telah diberkati ini, menurut Raymon, akan dibawa pulang oleh umat atau diletakkan di pintu masuk gereja sebagai pengingat akan kesucian setiap kali mereka melangkah ke rumah Tuhan.

Upacara Pembaptisan di Malam Paskah Gereja Katolik Maria Fatima, Bangkalan, Sabtu (4/4/2026). Foto : (Super Radio/Nur Ifa)

Meski merayakan tradisi yang telah berusia ribuan tahun, Paskah kali ini di Bangkalan terasa sangat kekinian. Pasalnya, dalam Paskah tahun ini,

Keuskupan Malang yang menjadi “pemilik wilayah” Pulau Madura mengusung tema yang progresif, yakni “Berjalan Bersama Menjadi Pembawa Berkat di Era Kecerdasan Buatan.” Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah disrupsi teknologi yang kian masif.

Romo Purnomo, dalam pesan Paskahnya, menekankan, kebangkitan Kristus harus diterjemahkan menjadi aksi nyata di dunia modern.

Melalui gerakan “Satu Hati 100 Aksi”, umat diajak untuk tidak hanya terpaku pada ritual, tetapi juga bergerak menjadi saluran berkat melalui minat dan bidang profesional masing-masing, termasuk dalam pemanfaatan teknologi.

“Di zaman teknologi ini, kita harus tetap mampu menjadi berkat bagi sesama. Setiap pribadi didorong melakukan aksi nyata agar kehadiran kita dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” tegas Romo Purnomo.

Paskah di Bangkalan bukan sekadar perayaan agama, melainkan momentum bagi umatnya untuk kembali berpijak pada nilai kemanusiaan di tengah arus kecerdasan buatan yang kian kencang. (fa/red)

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.