Jumat Agung di Bangkalan, Saat Altar Tak Lagi Bersolek
SR,Bangkalan – Keheningan yang berbeda merayap masuk ke balik dinding Gereja Katolik Paroki Maria Fatima, Jumat (3/4/2026) yang bertepatan dengan Jumat Agung.
Bagi umat Katolik di Bangkalan, ini adalah fase duka terdalam. Sebuah peringatan atas wafatnya Yesus Kristus yang dirayakan dalam kesederhanaan yang mencekam.
Ibadat dimulai sejak 07.00 WIB melalui prosesi Jalan Salib. Tak ada panggung teatrikal yang megah atau drama kolosal yang mencolok.
Di bawah arahan Ketua Panitia Paskah, Yosep Raymon Anggoro, umat memilih meresapi 14 perhentian kisah sengsara Yesus lewat narasi yang syahdu.
Suasana haru seketika memenuhi ruangan saat salib dan lilin perlahan memasuki gereja.
Raymon, yang hari itu mengenakan pakaian putih bersih, membacakan tiap bait penderitaan Kristus—mulai dari vonis hukuman mati hingga momen pemakaman.
“Melalui Jalan Salib ini, kami ingin merenungkan bagaimana Yesus menghadapi kesulitan yang bertubi-tubi, namun tidak pernah menyerah. Itu adalah teladan keteguhan bagi kita semua,” ujar Raymon.
Hari ini, ada pemandangan yang tak biasa di dalam gereja. Altar yang biasanya menjadi pusat kemegahan dengan bunga dan lilin, kini tampak kosong melompong. Tidak ada kain hiasan, tidak ada ornamen.
Bahkan, patung-patung suci di sudut-sudut gereja tampak tertutup kain ungu. Sebuah visualisasi duka yang dramatis sekaligus bersahaja.
“Altar dikosongkan karena tubuh Yesus sudah tidak ada di sini. Patung ditutup sebagai tanda perkabungan. Kita semua menunggu dalam sunyi sampai nanti kemenangan iman di Sabtu malam,” jelas Raymon.
Puncak kesunyian itu terjadi tepat 15.00 WIB. Pada jam yang diyakini sebagai waktu wafatnya Yesus, tak ada bunyi lonceng yang berdentang, pun tak ada iringan musik organ yang biasanya megah.
Di Bangkalan, kesunyian di dalam gereja seolah berpadu harmonis dengan rasa hormat masyarakat sekitar.
Toleransi yang tinggi membuat umat Katolik dapat menghayati masa duka mereka dengan tenang.
Suasana paling menyentuh terjadi saat sesi penghormatan salib. Umat maju satu per satu, berlutut, dan mencium salib kayu. Dalam momen ini, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gesekan langkah kaki di atas lantai gereja.
Ibadat Jumat Agung ini sekaligus menandai berakhirnya masa puasa dan pantang selama 40 hari yang dijalani umat.
Kini, Gereja Maria Fatima Bangkalan akan tetap dalam kondisi sunyi total, “beristirahat” sejenak sebelum menyambut kidung kemenangan pada upacara Vigili Paskah Sabtu malam besok. (fa/red)
Tags: #Bangkalan #JumatAgung #Paskah2026 #TrihariSuci #Toleransi #HumanInterest #GerejaMariaFatima #Madura
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.


