Linksos Akan Gelar Sarasehan Pengembangan Potensi Pemuda Difabel

Yovie Wicaksono - 18 August 2019
Semiloka Pembangunan Inklusif Disabilitas di Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, pada Kamis (15/8/2019). Foto : (Istimewa)

SR, Malang – Lingkar Sosial (Linksos) Indonesia akan menggelar sarasehan Pengembangan Potensi Pemuda Difabel melalui Kelompok Kerja (Pokja) di sekretariat Pokja Wirausaha Difabel Lingkar Sosial, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, pada Rabu (21/8/2019).

Sarasehan yang bertemakan kepemudaan ini bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia, akan menghadirkan narasumber dari Pendamping Kementerian Sosial, Koordinator Forum Malang Inklusi dan Lingkar Sosial Indonesia sendiri.

Ketua Linksos Indonesia, Kertaning Tyas mengatakan, latar belakang diselenggarakannya sarasehan ini karena masih minimnya peran aktif pemuda difabel usia 30 dalam partisipasi sosial.

“Khususnya di Kabupaten Malang, para pemuda difabel dibawah usia 30 tahun masih banyak mengalami ketertinggalan, hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator diantaranya di bidang ketenagakerjaan, seni budaya dan olahraga,” ujar pria yang kerap disapa Ken ini, pada Minggu (18/8/2019).

Ken menambahkan, minimnya peran aktif pemuda difabel adalah ancaman keberlangsungan advokasi hak-hak penyandang disabilitas. Terlebih, UU RI nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanatkan adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

“Namun implementasinya masih memerlukan advokasi berkelanjutan dari semua pihak utamanya dari kelompok penyandang disabilitas sendiri. Hal ini seperti dilakukan oleh Forum Malang Inklusi (FOMI),” imbuhnya.

Selama ini, lanjut Ken, FOMI lebih banyak menyoroti persoalan umum seperti aksesibilitas, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan penyadaran masyarakat. Sedangkan hal yang tak kalah penting berkaitan dengan pengembangan bakat dan minat pemuda di bidang seni budaya dan olahraga belum tersentuh.

“Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor kurang berminatnya pemuda difabel usia 16- 30 tahun bergabung dalam organisasi penyandang disabilitas,” imbuhnya.

Lebih lanjut, hal ini juga merupakan ancaman bagi regenerasi organisasi-organisasi penyandang disabilitas. Sedangkan keberadaan organisasi penyandang difabel diperlukan untuk mendorong partisipasi aktif warga negara dalam pembangunan dan advokasi hak-hak penyandang disabilitas.

Melalui sarasehan ini, diharapkan mampu menghasilkan beberapa rencana tindak lanjut dari perwakilan komunitas difabel yang hadir, seperti menginisiasi adanya program-program pengembangan bakat minat pemuda difabel oleh organisasi-organisasi penyandang disabilitas.

Kemudian mendorong adanya kerjasama pemerintah, swasta dan stakeholder terkait untuk mendukung kegiatan seni budaya dan olahraga bagi penyandang disabilitas.

“Mendorong Pemkab Malang, Pemkot Malang dan Pemkot Batu melalui dinas terkait untuk pemenuhan hak ketenagakerjaan,” ujar Ken.

Lalu untuk mendorong terbentuknya komite olahraga difabel atau National Paralympic Committee (NPC) di Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Selain itu juga untuk mendorong terwujudnya kerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk pelatihan kerja secara inklusif bagi pemuda-pemuda disabilitas.

“Serta mendorong terwujudnya pengembangan pokja di 33 kecamatan di kabupaten Malang, 5 pokja di kota Malang, serta 3 pokja di kota Batu sebagai alat rekrutmen pemuda difabel,” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.