Kreativitas Budayawan dan Seniman Diuji di Tengah Pandemi

Yovie Wicaksono - 17 July 2020
Didik Nini Thowok dalam Pagelaran Seni Budaya Selomangleng, Minggu (20/10/2019). Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Malang – Pandemi Covid-19 mengharuskan aktivitas keseharian lebih banyak di rumah. Namun, bukan berarti di rumah hanya berdiam diri. Begitu juga, para budayawan dan seniman. Pandemi Covid-19 tidak bisa membatasi kreativitas mereka.

Demikian disampaikan Asisten I Sekdaprov Jatim, Ardo Sahak saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Online Strategi Pengembangan Kebudayaan Jawa Timur Menjawab Tantangan Era New Normal Tahun 2020 melalui fasilitas Zoom, Kamis (16/7/2020) dari kantor Bakorwil Malang.

“Kreativitas saat pandemi harus tetap menyala. Seperti rakor online sekarang, walaupun berjauhan secara raga namun hati tetap dekat,” terangnya.

Ia menegaskan, wabah virus corona harus diambil hikmahnya. Menurutnya, justru saat pandemi, seniman lebih banyak ada waktu, misalnya untuk mencetak buku, mencetak cerpen, bahkan meluncurkan single lagunya.

Covid-19 menimbulkan dampak bagi berbagai pihak, termasuk para seniman. Sejak wabah Covid-19 merebak pada Februari lalu, menyebabkannya kehilangan beberapa pekerjaan.

Meski mengalami kerugian ekonomi, bahwa pandemi juga menimbulkan dampak positif. Dengan adanya pandemi, seniman memiliki banyak waktu untuk lebih menggali kemampuan. Dengan banyaknya waktu luang, semakin banyak orang yang mengeksplorasi diri dan berkarya sehingga selama pandemi semakin banyak bermunculan seniman-seniman baru.

“Kemudian tercipta kolaborasi antar para pekerja seni lintas daerah, lintas negara, bahkan benua yang itu tidak mungkin bisa terjadi sebelum pandemi karena harus ada budget pesawat dan segala macamnya. Tapi dengan teknologi kita bisa melakukan itu lewat berbagai macam platform, kemudian bermunculan ide-ide secara daring,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Jatim, Sinarto mengatakan dunia kreatif sangat terdampak pada kondisi sekarang. Kalangan seniman, yang di dalamnya termasuk para pekerja budaya dan mereka yang berkutat di bidang sastra, sangat merasakan kondisi saat ini secara ekonomi.

Peranan semua pihak diharapkan ada untuk membantu para seniman yang tak bisa bekerja dan tak mendapatkan penghasilan. Sebab hampir semua kegiatan seni berhenti dan tak boleh dilakukan dalam rangka social and physical distancing.

Rakor ini juga mendorong penyiasatan dan pertunjukan seni agar tetap eksis ditengah pandemi Covid-19 dengan mencari solusi dan memanfaatkan teknologi yang ada. Memandang perlu mendiskusikan bagaimana konsep pertunjukan seni yang akan dilakukan pada masa pandemi.

“Mengingat semenjak adanya masa pandemi Covid-19 ini ada beberapa protokol kesehatan yang harus kita taati, untuk itu bagaimana dengan kesenian yang mana dalam pagelarannya melibatkan massa yang banyak dan tentunya dengan berbagai riasan yang harus digunakan, ini perlu kita diskusikan bersama,” katanya.

Rakor ini secara bersamaan juga berlangsung di empat Bakorwil lainnya, yakni Bakorwil Jember, Pamekasan, Madiun dan Bojonegoro dengan menghadirkan pelaku seni, budayawan dan praktisi. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.