Ketahanan Pangan di Kampung si Ahong
SR, Surabaya – Sampah di wilayah RT 8 RW 9 Kelurahan Tanah Kali Kedinding tak lagi terlihat berserakan. Sebaliknya, wilayah yang terletak di Kecamatan Kenjeran ini, berhasil mengubah citra kawasan Surabaya Utara yang dianggap kumuh.
Suasana asri nampak dari dekorasi tanaman gantung yang melengkung sejajar diatas gerbang utama, serta kesegaran dari taman hidroponik di sisi kiri, dan pot-pot tanaman binahong yang berjajar rapi di depan rumah masing-masing warga yang tinggal di Jalan Tanah Merah Utara gang 5 ini. Berderetnya tanaman binahong, membuat kampung ini mendapat julukan si anak binahong (Ahong).
Ketua RT 8 RW 9, Lukman Arif mengatakan, proses mengubah citra kampung yang dihuni 90 KK tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Semuanya bermula dari perjuangan ketua RT sebelumnya, yang menjajal peluang ikut serta dalam lomba Mandiri Dari Sampah (MDS) tahun 2015 dan menang dengan kategori Best of The Best.
“Waktu ikut lomba tahun 2015, harus merombak tanah kosong menjadi taman dan lain sebagainya, jadi modalnya hampir 10 juta diawal-awal itu. Di awal lomba tahun 2015 itu kita dapat hadiah kurang lebih 15 juta,” kata Lukman.
Sejak saat itu, imbuh Lukman, semangat dan gotong royong warga untuk mengubah “wajah” kampung menjadi lebih baik mulai ditanamkan dan berlangsung hingga sekarang.
“Dari situ warga antusias untuk mengikuti lomba dan memperbaiki kampung. Dari anak-anak sampai dewasa ikut membaur mempercantik kampung pada waktu itu, mengurangi sampah, sehingga kampung bisa lebih bersih, dan lebih sehat,” jelasnya.
Selaku pemimpin kampung, Lukman memiliki cara unik menjaga kebersamaan antar warga. Ketika ada warga yang tidak ikut kerja bakti, aturan yang diterapkan bukanlah denda melainkan bertamu ke rumah orang tersebut, diajak bicara dari hati ke hati agar mau berpartisipasi dalam kegiatan dan membaur dengan warga lain.
“Selama ini kurang lebih sudah ada 5 warga yang didatangi karena tidak ikut kerja bakti. Ya orang-orang itu aja lah, ya beliaunya juga bekerja saat malam, jadi paginya tidak bisa bangun, kecapekan, jadi ya memang kita maklumi, tapi kita tetap berusaha untuk bisa agar beliaunya mau untuk kerja sama dengan kita dan membaur dengan warga yang lain,” ujarnya.
Ia juga selalu menampung semua pendapat dari warga untuk kepentingan bersama. Tidak itu saja, agar kekeluargaan antar warga semakin erat, ada kegiatan rutin seperti senam dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu).
Secara bersama-sama, warga juga mengelola taman yang di dalamnya terdapat tanaman hidroponik seperti sawi, selada, dan pokcoi. Lalu ada juga cabai, tomat, dan tanaman toga, yang ditanam di media pot, serta magot dan ternak lele, yang perawatannya dibantu oleh tim yang dibentuk oleh pengurus PKK.
Setiap hari, terdapat tim yang terdiri dari 2-3 orang ibu-ibu secara begantian mengontrol jumlah debit air, lalu 3 hari sekali tim yang berbeda akan memeriksa kandungan PH nya. Mereka juga memanfaatkan sampah organik sebagai pakan magot (larva lalat) yang nantinya menjadi pakan alternatif untuk lele.
Dari hasil bercocok tanam dan ternak lele tersebut, warga bisa menciptakan ketahanan pangan untuk daerahnya. Dalam setahun terakhir, kata Lukman, mereka telah memanen tanaman hidroponik sebanyak 5 kali, dan lele 3 bulan sekali. Hasilnya, dikonsumsi warga dan sebagian lagi dijual.
“Panen tanaman hidroponik 3 minggu sekali, paling lama 1 bulan. Kalau tahun ini sudah kurang lebih 5 kali panen. Lele panennya 3 bulan sekali dan baru kali ini dicoba, untuk cabai, tomat belum panen karena baru pertama kali,” ungkap Lukman.
Kehadiran PKK dan koperasi juga turut serta mendukung kegiatan warga. Semua dilakukan secara mandiri, tanpa adanya sponsor dari pihak luar. Murni dari warga untuk warga.
Sementara itu, Ketua PKK RT 8 RW 9, Zumrotus Sholihah mengatakan, banyaknya sampah rumah tangga, membuatnya berinisiatif membantu memanfaatkan hal tersebut menjadi barang yang lebih berguna.
Ia melakukan pelatihan yang melibatkan karang taruna, mengenai pengolahan sampah kering menjadi kerajinan tangan yang dapat dijual, seperti bunga dari kresek, taplak meja dari sedotan, dan sebagainya. Kemudian melalui Bank Sampah, sisa sampah kering yang tidak dipakai bisa dijual kembali dan sampah basah diolah menjadi pupuk untuk tumbuhan.
“Kita sekarang sedang menggalahkan hidroponik, terus ada urban farming juga. Terus kalau dari bapak-bapak ada magot sama lele. Yang mengolah limbah kering menjadi keterampilan itu warga sendiri, masalah pelatihan sebenarnya kita kadang dari media sosial, kita usaha sendiri. Dan kapan hari juga kita dapat pelatihan dari anak KKN, jadi memanfaatkan apa yang ada di sampah kering untuk yang bisa kita manfaatkan,” kata Zumrotus.
Ia juga mengadakan beberapa kegiatan. Mulai dari koperasi sembako yang pada awalnya menggunakan dana kas kemudian berkembang, koperasi simpan pinjam, serta UKM yang menjual minuman sinom, rosella, dan kerajinan tangan.
“Penghasilannya sudah jutaan juga kalau dari UKM, kalau hasil dari sebagian kita pakai sendiri, sebagian kita jual. Koperasi sembako juga sangat bisa banyak mendukung kegiatan, barang-barang sembako yang dibutuhkan oleh warga nanti membayarnya untuk satu bulan berikutnya, laba nya nanti kita masukan ke kas PKK, jadi itu yang bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan di kampung kita,” pungkasnya. (hk/red)
Tags: bercocok tanam, gotong royong, kampung inspiratif, Kampung si Ahong, ketahanan pangan, PKK, Tanaman Hidroponik, Ternak Lele
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.







