Kereta Cepat Jakarta-Surabaya dan Isyarat Kedekatan RI-Tiongkok
Oleh: Andhika Wahyudiono, Dosen UNTAG Banyuwangi
Menko Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, mengajak Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk mempercepat pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya, Jawa Timur. Pernyataan ini disampaikannya saat bertemu dengan Menlu RRT Wang Yi dalam pertemuan HDCM RI-RRT di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu.
Usulan tersebut merupakan kelanjutan dari kesuksesan operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang dikenal dengan nama Whoosh, dan direncanakan untuk diteruskan hingga ke Surabaya dengan bantuan Tiongkok. Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan antara Global Maritime Fulcrum (GMF) yang diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo dan Belt and Road Initiative (BRI) yang merupakan inisiatif mega proyek pemerintah RRT di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
Luhut mengusulkan pembentukan joint task force untuk mempercepat proyek tersebut, dengan meminta Pemerintah RRT, China Development Bank (CDB), dan China Railway, perusahaan kereta api dari RRT, untuk memberikan perhatian prioritas terhadap proyek kereta cepat di Indonesia. Dukungan finansial dan transfer teknologi operasional proyek menjadi hal penting yang ditekankan oleh Luhut.
Sebelumnya, Wang Yi telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, di mana Jokowi menekankan perlunya percepatan studi kelayakan untuk perpanjangan kereta cepat ke Surabaya. Hal ini menunjukkan keterlibatan Tiongkok dalam proyek tersebut, di mana China Railway dijadwalkan akan memulai tahapan studi kelayakan proyek Jakarta-Surabaya setelah pertemuan bilateral antara Jokowi dan Presiden Xi Jinping di Beijing pada Oktober 2023.
Proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya dianggap memiliki signifikansi yang besar dalam upaya menciptakan konektivitas transportasi yang efisien dari wilayah barat ke timur di Pulau Jawa. Rencana rute proyek ini mencakup jalur dari Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang akan melalui Yogyakarta, Solo, hingga mencapai Surabaya.
Dengan adanya kereta cepat ini, diharapkan akan terjadi peningkatan aksesibilitas transportasi antar kota yang lebih cepat dan efisien. Para penumpang akan dapat melakukan perjalanan antar kota dengan waktu tempuh yang lebih singkat, yang pada gilirannya akan mendukung mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah yang dilalui oleh jalur kereta cepat tersebut.
Selain peningkatan aksesibilitas, pembangunan kereta cepat juga diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan wilayah di sepanjang rutenya. Dengan adanya jalur kereta cepat, potensi untuk mengembangkan sektor pariwisata, perdagangan, dan industri di kota-kota yang dilalui akan semakin terbuka. Ini dapat menciptakan peluang baru untuk investasi dan penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah-wilayah tersebut.
Selain manfaat ekonomi, proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya juga menjadi bukti konkret dari hubungan bilateral yang erat antara Indonesia dan Tiongkok. Kerja sama ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerjasama di bidang infrastruktur dan investasi, serta menegaskan arah hubungan bilateral yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
Pentingnya kereta cepat Jakarta-Surabaya juga terletak pada kemampuannya untuk mengurangi tekanan pada sistem transportasi yang sudah ada, terutama dalam mengurangi kemacetan lalu lintas dan emisi gas rumah kaca. Dengan menyediakan alternatif transportasi yang ramah lingkungan dan efisien, proyek ini dapat membantu mengurangi beban lingkungan dan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Namun, dalam merealisasikan proyek ini, perlu memperhatikan berbagai aspek termasuk keberlanjutan lingkungan, dampak sosial, dan keadilan ruang. Proses pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur harus dilakukan dengan memperhatikan hak-hak masyarakat setempat, serta meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Dengan demikian, proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya bukan hanya sekadar proyek infrastruktur biasa, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk memperkuat konektivitas regional, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kerjasama bilateral antara Indonesia dan Tiongkok. Dengan pelaksanaan yang tepat dan berkelanjutan, proyek ini memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat yang signifikan bagi Indonesia dalam jangka panjang. (*/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





