25 Tahun Geluti Profesi Tukang Kuras WC Manual

Yovie Wicaksono - 5 April 2019
Suratno (46) berjaga di sebelah lima gledek miliknya yang digunakan untuk menguras wc secara manual, di seberang Jalan Lawang Seketeng, Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Bergulat dengan tinja dalam keseharian bagi banyak orang tidaklah mudah, sama halnya dengan Suratno (46) saat pertama kali memutuskan untuk berprofesi sebagai tukang kuras wc manual pada 25 tahun lalu yang merupakan usaha warisan dari ayah mertuanya.

“Dulu saat pertama kali kuras wc ya saya merasa jijik, sampai seharian tidak ingin makan, tapi lama-lama ya sudah terbiasa,” ujar Suratno kepada Super Radio, Jumat (5/4/2019), sambil tersenyum mengingat awal mula dirinya memilih berprofesi sebagai kuras wc manual.

Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus melanjutkan usaha ayah mertua yang sudah memiliki 8 gledek untuk menguras wc secara manual, membuat pria asal Bojonegoro ini memilih profesi itu.

“Dulu pernah bekerja sebagai tukang becak, namun karena pendapatan tukang becak tidak mencukupi, dan kalah bersaing dengan transportasi lain, akhirnya nguras wc. Sampai sekarang saya juga tidak pernah terfikir untuk beralih ke profesi lain, karena saya juga sudah tua, mau kerja apalagi? Ya mau gak mau kerja nungguin ini lah,” tambah Suratno.

Bertempat di seberang jalan Lawang Seketeng Gang 2, Peneleh, Genteng, Surabaya, Suratno menunggui  lima gledek milik ayah mertua yang tersisa setelah tiga gledeknya disita Satpol PP.

“Sebelum disini dulu tempatnya di Pandean, tapi sama warga situ diminta untuk pindah, akhirnya pindah disini dengan syarat satu bulan saya bayar parkir untuk gledek saya ini Rp.150 ribu,” ujar Suratno.

Suratno juga menjelaskan perbedaan sedot wc dengan kuras wc manual yang ia lakoni, salah satunya adalah wc manual bisa menjangkau wilayah padat penduduk seperti kampung.

“Selain itu, sedot wc itu kadang kurang bersih, karena tinja kalau sudah berupa lumpur atau tanah kan tidak bisa disedot, ya bisanya pakai manual ini pakai serok, dan  cangkul itu. Kalau gak bisa diambil ya saya terpaksa turun untuk mengambil tanah itu,” ujar Suratno.

Meskipun penghasilan tidak ia dapatkan setiap hari, namun bagi Suratno pendapatannya setiap kali menguras masih bisa mencukupi keluarganya, dibandingkan pekerjaan yang dulu sempat ia lakoni, yakni tukang becak.

“Dulu saya pertama kali kerja ini satu gledeknya itu masih Rp.30 ribu, sekarang tarif paling murah Rp.150 ribu, tergantung pada ukuran sepiteng wc nya. Memang ini tidak setiap hari kerja, tapi kalau dibandingkan hasilnya ya lumayan, sekali nguras bisa Rp.300-400 ribu, itupun kan cuma semalam. Kadang satu minggu nguras tiga sampai empat kali, tapi juga pernah gak nguras sama sekali,” tandasnya.

Tanpa menggunakan promosi melalui brosur yang tertempel di tiang listrik seperti halnya sedot wc, Suratno hanya mengandalkan gerakan mulut ke mulut, serta berjaga di samping gledeknya. Ia memiliki pelanggan bukan hanya dari kawasan Surabaya, namun sampai kawasan Sepanjang.

Dengan menggunakan peralatan seperti pikulan, linggis, cetok, battle, dan palu, Suratno membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sekali pengerjaan.

“Pertama kita linggis dulu, kita buka, lalu tinjanya dikasih minyak seperti karbol dan pengharum pakaian untuk mengurangi baunya, dulu sih pakai minyak sirih, nah terus diaduk sama serok dan cangkul, baru kita angkut pakai timba lalu dipikul dan dimasukkan ke gledek,” ujar Suratno menjelaskan proses pengerjaan kuras wc manual.

Setelah pengurasan, Suratno akan membuang tinjanya diareal lahan kosong namun tidak sembarangan, agar tidak mengganggu.

“Kalau pembuangan tinjanya itu di lahan kosong, kita gali lahan itu lalu tinjanya dimasukkan, baru kita uruk lagi. Jadi kalau kita ngurasnya jauh, kita cari dulu tempat pembuangan yang pas, baru kita kerjakan,” tambah Suratno.

“Saya juga sering menjumpai wc yang tersumpat, itu pengerjaannya lebih susah dari pada nguras. Dan penyebab utama tersumbat itu saya selalu menjumpai pembalut. Jadi kalau gak mau wc nya tersumbat ya jangan buang pembalut di wc, kalau siram juga pakai air yang banyak, agar kotoran tidak mampet ditengah jalan,” pungkas Suratno. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.