Musisi Gereja Sidoarjo Satukan Rasa di SDA Community

Rudy Hartono - 30 August 2026
Anggota komunitas SDA Community tengah jamming seasons (main musik bersama) melantunkan lagu-lagu rohani menikmati momen kumpul sebulan sekali di Kopi Cos, Ruko Sentral Jalan Jenggolo, Sidoarjo. (foto: meira/superradio.d)

SR, Sidoarjo – Suasana sore menjelang malam di salah satu sudut Sidoarjo, di areal Ruko Sentral Jalan Jenggolo, mendadak dikunjungi sekelompok anak muda bergaya skena.

Mereka mengenakan t-shirt, celana jeans pendek, sepatu kets dan juga membawa alat musik gitar akustik dan juga keyboard. Perangkat alat musik itu di gelar depan sebuah  street coffee yang dinamai Kopi Cos.

Anak muda ini ternyata membentuk kelompok yang menamakan dirinya SDA Community. Latar belakang profesi mereka beragam: mulai dari pengusaha, jurnalis, penulis, guru les musik, hingga pelayan gereja purna waktu (full-time). Meski beragam tapi mereka disatukan oleh satu aktivitas yang sama yakni sebagai pemain musik gereja.

“Jadi, SDA Community dibentuk sekitar akhir 2025 tahun lalu. Komunitas ini merupakan wadah yang mempertemukan kami para musisi yang melayani pelayanana dari berbagai gereja tanpa membedakan besar atau kecilnya asal gereja mereka,” ujar Sebastian okky, Ketua SDA Community  saat berbincang dengan Super Radio, Senin (24/8/2026)

Di tengah kesibukan profesi masing-masing, anggota komunitas rutin meluangkan waktu untuk berkumpul, melepas penat, dan mengeksplorasi musik rohani bersama, sekaligus juga menyanyikan lagu-lagu rohani. ”Waktu berkumpulnya tidak tentu harinya, tapi yang pasti setiap bulan minimal satu kali kami berkumpul,” kata pria yang akrab disapa Okky itu.

Kendati terbentuknya SDA Communkity relatif belum lama, tapi peminat komunitas ini berkembang pesat dengan ‘anggota’ tak kurang dari 100 orang yang tersebar di Pasuruan, Mojokerto, dan Jombang. Yang menjadikan daya tarik komunitas ini karena wadah ini bersifat terbuka dan menjadi ajang diskusi  informal yang menyenangkan.

“Selain menyanyikan lagu-lagu rohani, kami manfaatkan momentum berkumpul berkala itu sebagai sarana saling berinteraksi, bertukar informasi, berbagi ilmu, hingga membedah tren musik rohani yang sedang berkembang secara global,” terang Okky.

Ketua SDA Community Sebastian Okky (berdiri paling kiri) di Kopi Cos, Ruko Sentral Jalan Jenggolo, Sidoarjo. (foto: meira/superradio.d)

Cair Tanpa Susunan Acara

Uniknya, setiap pertemuan SDA Community dirancang sangat cair, terbuka, dan sama sekali tidak terpaku pada susunan acara yang kaku.

Biasanya, kegiatan dibuka dengan sesi worship (penyembahan) yang intim. Setelah itu, barulah sesi bermusik bersama atau jamming session dimulai. Di sinilah keseruannya, karena setiap peserta yang datang secara spontan bisa langsung maju ke depan, bergabung, dan berkolaborasi dengan musisi lainnya.

Agenda kumpul-kumpul ini pun dibuat dinamis agar tidak membosankan. Okky yang juga pengusaha itu menambahkan bahwa lokasi pertemuan tidak selalu menetap di Kopi Cos, yang disepakati sebagai markas mereka di Sidoarjo.

“Kalau tempat  berkumpulnya bisa berpindah-pindah, baik di ruang tertutup (indoor) ataupun tempat terbuka (outdoor) seperti acara barbeque semacam itu,” imbuh Okky.

Melalui bahasa musik dan kekuatan kebersamaan, SDA Community menyimpan harapan besar untuk masa depan. Mereka ingin terus konsisten menyediakan ruang komunal yang sehat bagi para musisi untuk bertumbuh bersama.

Lebih dari sekadar tempat nongkrong, komunitas ini berkomitmen untuk membawa berkat, kedamaian, serta inspirasi positif bagi masyarakat luas di Sidoarjo dan sekitarnya. (mei/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.