Kemenangan Taliban Dinilai Dapat Picu Munculnya Politik Identitas di Indonesia

Yovie Wicaksono - 22 August 2021
Dosen pengajar Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Joko Susanto pada diskusi Forum Jatim, Sabtu (21/8/2021). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Dosen pengajar Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (Unair), Joko Susanto menilai kemenangan Taliban terhadap Afghanistan dapat memicu momentum munculnya politik identitas di Indonesia. 

Politik identitas adalah sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama, atau yang lainnya untuk tujuan tertentu. Identitas tersebut dipolitisasi secara ekstrim dengan tujuan, mendapat dukungan dari orang yang merasa ‘sama’, baik secara ras, etnisitas, agama, maupun elemen perekat lainnya. Misalkan sebagai bentuk perlawanan atau sebagai alat untuk menunjukan jati diri dari suatu kelompok tersebut.

Hal ini ditambah dengan kecenderungan beberapa umat Islam di Indonesia yang lebih melihat perkembangan di Afghanistan secara romantis dan emosional ketimbang analitik dan rasional. 

“Dinamika kedekatan dengan aktor-aktor baru, dapat memicu polarisasi dukungan simpatisan Taliban di luar kawasan termasuk diantaranya di Indonesia. Begitu naik, ini euforia muncul kelompok jemaah islamiyah sudah jelas, bisa kita duga, yang kemudian dikhawatirkan mengarah ke satu ruang bagi politik identitas yang masih bisa dieksploitasi,” ujarnya, pada diskusi Forum Jatim, Sabtu (21/8/2021).

Namun menurutnya, situasi di Indonesia jauh berbeda dengan Afghanistan. Sehingga meskipun momentum itu terbentuk secara politik, potensialnya tergantung pada respon kita menanggapinya.

“Jadi naiknya Taliban ini pasti akan membuka momentum baru untuk politik identitas. Cuma sejauh mana politik identitas itu akan mengejawantah itu masih harus dipikirkan, belum tentu membesar juga, karena Indonesia situasinya berbeda dengan Afghanistan,” ucap pria yang juga menjadi penanggung jawab kajian-kajian ekonomi politik global, strategi dan tata kelola strategik itu.

Disaat seperti ini, kata Joko, negara perlu mempertimbangkan berbagai aspek dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan situasi Afghanistan. Respon-respon konstruktif dan sigap, serta eksplorasi peluang bagi pengembangan pendekatan kerahmatan Islam, dapat menjadi dasar hubungan kedua negara dan menjadi kunci bagi posisi Indonesia dalam merespon dinamika baru Afghanistan.

“Kalau kita lihat, sebelum Afghanistan menguasai Kabul, Indonesia sikap awalnya adalah menyerukan untuk lanjutkan dialog, dan saya kira ini oke, posisi awal yang baik. Begitu kemudian mereka ada menguasai Kabul, tantangan barunya, apakah Indonesia harus segera mendeklarasikan atau tidak, nah disini kita perlu mengembangkan satu prudensi kebijakan wait and see,” jelasnya.

Selaras dengan hal tersebut, Cendekiawan PBNU Zuhairi Misrawi mengatakan, selama toleransi antar masyarakat masih terjaga dengan baik dan lembaga-lembaga keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan gerakan lintas agama lainnya masih kuat pengaruhnya, maka pengaruh Taliban tidak akan berdampak besar untuk Indonesia. Apalagi Afghanistan sudah dikenal dengan citra buruknya, yakni kaku, keras, dan intoleran.

“Gerakan lintas agama itu yang paling penting saat ini yang tidak ada di Afghanistan dan Timur Tengah, dan gerakan-gerakan lain kalau politik kita sehat, maka kelompok-kelompok radikal itu tidak memiliki peran. Maka sebenarnya kemenangan Taliban itu tidak akan memberikan pengaruh besar untuk negeri ini,” kata Zuhairi. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.