Kasus HIV Jatim Tertinggi, Sri Untari: Alarm Keras Ketahanan Keluarga dan Pempov Jatim

Rudy Hartono - 26 July 2026
Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Untari Bisowarno

SR, Surabaya – Menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Jawa Timur di peringkat pertama dengan temuan kasus baru HIV tertinggi secara nasional, jajaran legislatif mendesak adanya langkah penanganan yang cepat dan terukur.

Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP. sangat prihatin mendapati data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Jawa Timur di peringkat pertama dengan temuan kasus baru HIV tertinggi secara nasional. Merespons itu , jajaran legislatif mendesak adanya langkah penanganan yang cepat dan terukur.

“Sungguh saya sedih sekali sebagai seorang ibu dan perempuan yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Lonjakan yang membawa Jawa Timur berada di posisi tertinggi di Indonesia ini adalah sebuah peringatan dan alarm keras bagi kita semua,” ujar Sri Untari ditemui saat menghadiri peluncuran resmi Kartu Aksara Jawa di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Kamis (23/7/2026).

Berdasarkan pemetaan wilayah, sebaran kasus menonjol dilaporkan berada di daerah metropolitan, pusat industri, dan kawasan wisata. Tiga wilayah di Jawa Timur dengan catatan perhatian khusus meliputi Surabaya, Malang, dan Banyuwangi.

Soroti Dampak Gadget dan Pendidikan Karakter Anak

Sri Untari menengarai bahwa perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi turut andil dalam memicu perilaku berisiko di kalangan remaja. Merujuk pada laporan dari dinas kesehatan dan pihak rumah sakit, terdapat kaitan erat antara tingginya tingkat stres, maraknya pornografi, serta pola penggunaan gadget yang tidak terawasi pada anak.

Oleh karena itu, Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat dan perlindungan anak ini mendesak penguatan peran keluarga sebagai benteng utama.

“Peraturan pemerintah tentang batasan usia anak yang boleh memegang gadget harus kita laksanakan bersama. Seluruh keluarga harus memahami ini agar orang tua tidak mudah memberikan gadget kepada anak-anak,” tegas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Ia menambahkan, sebagai langkah pencegahan dari hulu, pendidikan adab, karakter bangsa, serta pemahaman kesehatan reproduksi yang relevan (sex education) harus diberikan sejak dini dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Tingginya kasus baru HIV juga menodai prestasi Jawa Timur yang enam tahun berturut-turut mengukir prestasi membanggakan sebagai provinsi dengan lulusan SMA terbanyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) “Begitu dihadapkan pada kenyataan ini, PR kita luar biasa berat,” imbuhnya.

Mempertimbangkan Wacana Pemeriksaan Kesehatan Pra-Nikah

Menanggapi kekhawatiran mengenai fenomena gunung es dan tingginya risiko penularan dari ibu hamil ke bayi akibat perilaku seksual, Sri Untari menyambut baik usulan adanya kebijakan pemeriksaan kesehatan (pre-marital test) bagi calon pengantin.

“Kebijakan itu bagus untuk mencegah penularan ke generasi berikutnya. Jika calon orang tua diketahui mengidap HIV, kita bisa mencegah agar bayinya tidak lahir dengan kondisi serupa. Nanti akan coba kita bicarakan apakah mekanisme administrasinya memungkinkan,” jelasnya.

Di sisi lain, politisi perempuan ini juga meminta pemerintah daerah untuk segera mengoptimalkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) agar mampu melayani pengobatan antiretroviral (ARV) dan perawatan jangka panjang yang mudah diakses masyarakat.

Antisipasi Penyalahgunaan Tempat Wisata

Guna menekan laju penularan di wilayah pariwisata dan metropolitan, Komisi E DPRD Jatim merekomendasikan koordinasi lintas pemerintah daerah (Pemda) untuk membangun regulasi bersama terkait pengawasan tempat wisata agar tidak disalahgunakan untuk tindakan asusila.

Pihak legislatif mendorong kerja sama ketat dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk meningkatkan fungsi pengawasan lingkungan.

“Kita harus bekerja sama dengan PHRI agar mereka ikut mengawasi dan tidak membiarkan hal ini berkembang. Jika banyak wisatawan yang terjangkit dan sakit, sektor wisata itu sendiri yang akhirnya akan mati,” pungkas Sri Untari. (ton/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.