Kadindik Jatim : Pendidikan Harus Berjalan dalam Situasi Apapun

Yovie Wicaksono - 3 October 2020
Kepala Dinas Pendikan Jawa Timur (Kadindik Jatim), Wahid Wahyudi. Foto : (JNR)

SR, Surabaya – Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur (Kadindik Jatim), Wahid Wahyudi menilai pendidikan harus terus berjalan dalam situasi apapun, meski saat pandemi.

Hal itu diungkapkannya dalam Webinar Nasional  bertema “Terobosan Sistem Pendidikan Nasional dalam Mencetak Generasi Muda Berwawasan Kebangsaan dan Bermental Pejuang” yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Komisariat Provinsi Jawa Timur,  Jumat (2/10/2020).

Menurutnya, meski dalam proses belajar tidak bisa dilakukan tatap muka, inovasi dan kreativitas terbukti bisa menjadi solusi.

“Diharapkan pendidikan itu memiliki kontribusi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa jangan malah menambah persoalan bangsa,” tegasnya.

Ada beberapa isu strategis yang terjadi di dunia pendidikan Jatim, salah satunya disparitas pendidikan di Jatim bukan hanya terjadi antar lembaga pendidikan saja, tetapi terjadi antar daerah. 

Dicontohkan pada 2019 kemarin saat masih ada ujian nasional, hasil Ujian Nasional (Unas) SMPN 1 Surabaya rata-rata 90, sementara SMP Galuh Handayani hasil Ujian Nasional rata-rata 30. 

“Padahal dua sekolah ini di Surabaya dan hanya berjarak sekitar 3 kilometer saja tapi nilai Unas bisa beda dan ini berlaku juga di daerah lain termasuk daerah terpencil,” tuturnya.

Di masa pandemi, siswa dan guru terpaksa harus melakukan proses belajar mengajar jarak jauh. Padahal secara teknis mereka belum siap. “Kondisi ini pasti menimbulkan disparitas dan persoalan baru lainnya,” ucap Wahid. 

Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kreativitas dari para guru dari tenaga kependidikan, serta masyarakat termasuk siswa, agar tujuan kualitas pendidikan bisa berjalan.

Persoalan fasilitas ini juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan diantaranya ruang belajar. “Banyak sekolah-sekolah yang kekurangan ruang belajar laboratorium dan mushola dipakai untuk ruang belajar, ini salah satu permasalahan,” katanya.

Saat proses belajar jarak jauh, yang menjadi persoalan diantaranya tidak semua rumah tangga memiliki smartphone, bahkan banyak keluarga yang hanya memiliki satu smartphone sehingga mereka kesulitan karena memiliki anak dua bahkan tiga yang pada waktu yang bersamaan harus menggunakan smartphone. 

Persoalan selanjutnya adalah blank spot (tidak ada sinyal komunikasi) kondisi ini dialami daerah kepulauan dan pegunungan seperti di kepulauan Sumenep Madura, Pacitan, dan Trenggalek. 

“Sumenep memiliki 52 pulau yang punya persoalan blank spot, kondisi ini semakin menyulitkan belajar jarak jauh,” imbuhnya.

Oleh karena itu, diharapkan semua pihak turut membantu, salah satunya dengan cara memberikan kartu internet maupun lainnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.