Awas! 5 Kecamatan Rawan DBD di Surabaya Versi AERIS ITS
SR, Surabaya – Lima kecamatan di Surabaya diprediksi menjadi zona risiko tinggi demam berdarah dengue (DBD) pada 2026. Prediksi tersebut dihasilkan melalui sistem Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS), yang dikembangkan mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
AERIS memanfaatkan WebGIS dan machine learning untuk memetakan risiko DBD. Hasil analisis menempatkan Kecamatan Tambaksari, Rungkut, Tandes, Sawahan, dan Semampir sebagai wilayah berisiko tinggi.
Sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi potensi peningkatan kasus DBD sejak dini. Ketua tim pengembang AERIS, Rifqi Pangestu Wiguna, menjelaskan pendekatan tersebut bersifat preventif.
“Melalui inovasi ini, kami berupaya menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif,” ujarnya, Selasa (9/6/2026). Tim mengolah data kasus DBD Surabaya periode 2019–2024 dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
Data tersebut dipadukan dengan curah hujan, topografi, kepadatan penduduk, dan variabel lainnya. Menurut Rifqi, semakin banyak faktor relevan yang digunakan, semakin akurat hasil prediksi.
Data kemudian diproses menggunakan empat metode machine learning berbeda. Metode yang digunakan meliputi Random Forest, XGBoost, Support Vector Regression, dan Regresi Binomial Negatif.
“Kombinasi variabel ini memungkinkan sistem menyajikan informasi risiko berbasis data,” ujarnya. Hasil analisis menunjukkan risiko DBD terkonsentrasi di wilayah berpenduduk padat.
Keberadaan genangan air juga menjadi faktor penting dalam model prediksi. “Oleh sebab itu, pengelolaan genangan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi langkah relevan,” ucap Rifqi.
Temuan ini memperkuat pentingnya upaya pencegahan di tingkat lingkungan. Keandalan model diuji menggunakan data aktual kasus DBD pada Maret 2025.
Data tersebut tidak dimasukkan dalam proses pelatihan model. Hasilnya, AERIS berhasil mengidentifikasi sembilan dari sepuluh kecamatan dengan kasus tertinggi.
Kecamatan Bubutan tidak terdeteksi akibat faktor lokal yang bersifat sementara. Selain prediksi risiko, AERIS menyajikan peta interaktif berbasis WebGIS.
Pengguna dapat mengakses informasi persebaran kasus, curah hujan, dan fasilitas kesehatan. Sistem tersebut juga menampilkan hasil prediksi risiko penyakit pada tingkat kecamatan.
“Kami berharap AERIS menjadi alat pendukung pengambilan keputusan berbasis data,” ucapnya. Inovasi ini mendukung tujuan kesehatan serta pembangunan kota yang berkelanjutan. (*/rri/red)
Tags: dbd, inovasi, Mahasiswa ITS, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





