Kader PDI Perjuangan Surabaya Blusukan Kampung Peduli Stunting di Kota

Rudy Hartono - 19 August 2025
Plt Ketua DPC PDIP Surabaya Yordan M Bataragoa temui kader membantu usaha zero stunting, Senin (19/8/2025). (foto: humas pdip jatim)

SR, Surabaya –  DPC PDI Perjuangan Surabaya blusukan menyusuri perkampungan padat penduduk di kawasan Jalan Kapas Lor, Kelurahan Kapas Madya Baru, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan paket bantuan makanan bergizi kepada anak yang terindikasi mengalami stunting.

Plt Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Yordan M Bataragoa, mengatakan stunting sebagai masalah serius karena berpotensi menghambat masa depan generasi muda Indonesia, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga berdampak pada tingkat kecerdasan. “Kalau balita sudah stunting, ke depan akan sulit berkembang. Potensinya terhambat. Satu anak stunting pun sudah terlalu banyak,” kata Yordan, Senin (18/08/2025).

Menurutnya, setiap anak yang lahir berhak tumbuh sehat jasmani maupun rohani. Karena itu, pemerintah bersama masyarakat harus memastikan tidak ada satupun anak yang terlahir dan tumbuh tanpa perhatian.

Yordan menekankan pentingnya peran PDI Perjuangan Surabaya dalam mengawal kebijakan pemerintah kota diantaranya menekan angka stunting hingga 0 persen. “Karena persoalan stunting menjadi atensi khusus dari Ketua Umum PDI Perjuangan ibu Megawati Sukarno Putri,” tegasnya.

Program pemerintah harus dikawal oleh partai agar benar-benar mencapai tujuan. Apalagi PDI Perjuangan merupakan partai pengusung wali kota dan wakil wali kota. Jadi harus memastikan penanganan stunting berjalan maksimal.

Sebagai bentuk komitmen, DPC PDI Perjuangan Surabaya menugaskan seluruh jajaran kader hingga tingkat anak ranting untuk terlibat aktif. Mereka diminta melakukan pendataan, pemantauan, hingga melaporkan perkembangan kondisi anak stunting di wilayah masing-masing.

Sementara itu Penanggung Jawab atau Person In Charge (PIC) Surabaya Menuju Zero Stunting DPC PDIP Surabaya Khusnul Khotimah menjelaskan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya angka stunting di Surabaya menunjukkan penurunan signifikan.

Pada 2021 tercatat 28,9 persen, kemudian turun menjadi 4,8 persen pada 2022, dan berlanjut menjadi hanya 1,5 persen pada 2023. Hingga tahun 2025 terpantau sebanyak 308 balita terindikasi stunting.

Khusnul menjelaskan, meski angka stunting di Surabaya sudah mendekati nol persen, kondisi ini tetap dianggap dinamis. “Sebab, setiap tahun ada kelahiran baru yang berpotensi mengalami gangguan tumbuh kembang,” pungkasnya. (*/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.