Jumlah Penghayat Kepercayaan Terus Menurun, Seratus Lebih Organisasinya Bubar
SR, Surabaya – Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mencatat jumlah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dari tahun ke tahun mengalami penurunan.
Pamong Budaya Ahli Utama Kemendikbudristek, Sri Hartini menjelaskan, pada era ‘80 an terdapat sekira 300 organisasi penghayat kepercayaan. Namun, eksistensinya terus menyusut hingga pada tahun 2016 tinggal 194. Untuk tahun 2024 ini semakin menurun dan hanya tercatat 153 organisasi.
“Tahun ini dilakukan pendataan. Yang bubar itu 19 bubar dan 7 itu tidak aktif. Makanya tinggal 153. Data dulu lah harus segera dibenahi,” ujarnya kepada Super Radio usai memberikan materi pada Sarasehan Nasional Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Wyndham Hotel di Surabaya, Selasa (20/8/2024).
Padahal, menurut Sri, dengan adanya teknologi seharusnya pendataan bisa dijangkau dengan mudah oleh organisasi penghayat kepercayaan melalui daring atau media sosial.
“Tapi memang sulitnya itu untuk mengisi tentang data anggotanya. Kan kita minta nominatiknya. Kalau data pengurus itu pasti. Tapi anggotanya itu berapa, namanya siapa, pekerjaannya apa, alamatnya dimana, jenis kelamin, itu kan data primer. Data yang masih harus dikembangkan lagi sebetulnya,” terangnya.
Perempuan yang lebih dari 40 tahun mendampingi kelompok penghayat kepercayaan dan masyarakat adat ini menjelaskan, tata kelola organisasi yang buruk menjadi penyebab sulitnya melakukan pendataan organisasi penghayat kepercayaan.
“Sebetulnya disini yang lemah itu manajemen, tata kelola organisasi itu sangat lemah. Yang tua tidak bisa mentransfer baik itu pengetahuan, ajaran dan seterusnya kepada generasi berikutnya. Nah, generasi berikutnya juga begitu. Kadang dia tidak respon terhadap organisasinya apalagi ajarannya,” bebernya.
Apalagi, Sri mengungkapkan, kelengkapan data menjadi sangat penting sebab terkait dengan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan organisasi itu sendiri.
“Apapun itu, yang namanya data itu pasti menjadi satu tolak ukur dalam rangka menjaga identitas, eksistensi, kekuatan, ketahanan organisasi. Kalau pemerintah dalam rangka sebagai dasar pengambilan kebijakan. Nah itu adalah domain kita ketika melakukan inventarisasi pendataan, termasuk perlindungan,” katanya.
Maka, yang ditakutkan kedepannya, kata Sri, ialah kesadaran mereka untuk penjaagaan, baik secara individu maupun berkelompok atau organisasi itu semakin habis. “Kesadaran mereka sendiri untuk menjaga eksistensinya itu harus terus diberikan spirit,” pungkasnya. (nio/red)
Tags: banyak bubar, jumlah turun, organisasi penghayat kepercayaan, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





