Jokowi Beri Waktu Jatim 2 Minggu Turunkan Angka Covid-19, Yuri : Jangan Diterjemahkan Terlalu Sempit

Yovie Wicaksono - 28 June 2020
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam webinar "Diskusi Covid-19 IDI Surabaya", Sabtu (27/6/2020). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar Jatim dalam waktu dua minggu dapat mengendalikan virus Corona (Covid-19), untuk tidak diterjemahkan terlalu sempit.

“Jatim harus turun ini sebuah challenge yang diberikan pemerintah, oleh Presiden secara langsung. Harus turun. Jangan dimaknai bahwa kasus turun itu artinya positifnya berkurang, meninggalnya berkurang, tidak,” ujarnya dalam webinar “Diskusi Covid-19 IDI Surabaya”, Sabtu (27/6/2020).

“Paling tidak yang menonjol dari apa yang saya baca, apa yang saya tangkap dari kemauan Presiden yang pertama kali harus turun itu jumlah orang yang gak pakai masker lah turun dulu. Janganlah 70 persenan yang gak pakai masker, turun. Jumlah orang yang keluyuran turun dulu,” imbuhnya.

Ia mengatakan, hal tersebut juga bisa dimaknai dengan pimpinan daerahnya harus turun kebawah. Kepala Dinas, pihak kecamatan, kelurahan, hingga RT agar turun melihat kondisi di lapangan seperti apa dan melakukan upaya pengendalian secara massif.

“Oleh karena itu, mohon tidak diterjemahkan terlalu sempit berkaitan dengan ini,” ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI ini.

Yuri mengatakan, pada dasarnya penyakit ini bermasalah dengan public health emergency atau darurat kesehatan masyarakat yang dimana harus menempatkan publik atau masyarakat sebagai subyek sekaligus obyek dari penanganannya.

“Sehingga menggunakan masker, bukan kemudian dianggap sebagai alat pemerintah untuk mengendalikan penyakit. Tapi kita bisa melakukan internalisasi bagaimana masker ini adalah alat masyarakat untuk tidak ketularan. Itu problem,” katanya.

Termasuk terkait larangan mudik, pemberlakuan PSBB, jaga jarak hingga new normal (normal baru), imbuh Yuri, adalah alat masyarakat agar terhindar dari penularan virus Corona.

“New normal juga diidentifikasikan, dipahami sebagai ini alatnya pemerintah untuk mengendalikan penyakit. Seharusnya new normal ya kita, awake dewe yang harus normal baru supaya tidak rentan,” tandasnya.

Ia menegaskan, new normal adalah kondisi dimana masyarakat dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan melakukan adaptasi untuk dapat hidup berdampingan dengan Covid-19, yang dimana harus tetap menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, cuci tangan, menggunakan masker dan penguatan tes-lacak-isolasi.

“Komunikasi risiko dan peran aktif masyarakat sangat penting menuju keberhasilan pengendalian Covid-19,” katanya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.