JEMARI, Solusi Minyak Jelantah Anak Negeri

Yovie Wicaksono - 6 November 2020
Ketua PKPS (Primer Koperasi Pengelola Sampah) Bondowoso Danny Dwi Damara saat melakukan koordinasi dengan Tenaga Ahli P3MD (Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kementerian Desa PDTT di Posko P3MD Bondowoso. Foto : (Super Radio/Fransiscus Wawan)

SR, Bondowoso – Ketua Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) Bondowoso, Danny Dwi Damara mengatakan, minyak bekas pemakaian atau minyak jelantah, tidak bisa terurai di air dan tanah kecuali dilarutkan dengan zat kimia.

Jika jelantah dibuang pada tanah, maka daya resap air ke dalam tanah akan berkurang. Bahkan, jika jelantah dibuang pada perairan, maka permukaan air akan tertutup minyak dan akan memicu naiknya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) yang dapat menyebabkan biota air mati.

“Minyak itu disebut minyak jelantah jika sudah berbusa permukaanya, berwarna gelap dan kotor, beraroma apek serta selalu berasap saat mencapai suhu penggorengan ideal,” ujarnya saat saat melakukan koordinasi dengan Tenaga Ahli P3MD (Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kementerian Desa PDTT di Posko P3MD Bondowoso.

Saking bahayanya, lanjut Danny, minya jelantah apabila digunakan terus-menerus, dapat menyebabkan penyakit serius, seperti kanker, jantung, hipertensi, gagal ginjal, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, Danny bersama pengurus PKPS di Posko P3MD Bondowoso tidak hanya menyampaikan bahaya minyak jelantah, tapi juga memberikan solusi atas penggunaan minyak jelantah agar tidak terus-menerus digunakan masyarakat.

Pada aspek memberikan solusi inilah, Danny melalui P3MD, yang di dalamnya banyak tokoh pemuda yang menjadi Pendamping Desa, diharapkan dapat memberikan edukasi dan solusi kepada masyarakat sekitar.

“Kami di PKPS memiliki Program JEMARI. Kepanjangannya adalah, Jelantah Membawa Rejeki,” ungkap Danny antusias.

Program JEMARI yang disampaikan PKPS memiliki sejumlah skema kerjasama. Skema pertama, kerjasama yang melibatkan kelembagaan masing-masing pihak dan diawali dengan edukasi kepada masyarakat. Langkah selanjutnya adalah pembentukan tim teknis yang bertanggungjawab untuk menyerap minyak jelantah di masyarakat. Sedangkan skema kedua, bisa secara personal (bukan kelembagaan), namun tetap dilakukan edukasi kepada masyarakat ketika minyak jelantah sudah terserap.

Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TA PED) P3MD Kabupaten Bondowoso, Andiono Putra mengatakan, sangat antusias dengan gerakan PKPS. Meski baru berdiri, yaitu sejak 14 Agustus 2020, gagasan PKPS patut diacungi jempol.

Berbagai kumpulan komunitas pemuda, dari pegiat bank sampah, aktivis lingkungan serta sejumlah ketua BUM Desa ini bukan hanya berani menyatukan visi dalam satu organisasi bernama Primer Koperasi Pengelola Sampah, tapi juga siap memberikan solusi atas pelbagai problem kesehatan, lingkungan, bahkan ekonomi.

“Karena itulah, kami sangat mendukung gagasan dan gerakan mereka. Mereka, anak-anak muda itu, harus kita support. Bukan hanya kita acungi jempol, tapi juga harus disiapkan “karpet merah”, agar gagasan mereka bisa dibumikan, bisa dilaksanakan,” ungkap Andiono.

Karena itulah, Andiono berharap, kemitraan PKPS ini bisa juga dilakukan dengan BUM Desa yang masih belum memiliki core business, sehingga pemanfaatan potensi lokal berupa sisa-sisa minyak jelantah di masyarakat bisa dikelola oleh BUM Desa. Demikian pula dengan laba yang diperoleh, juga bisa dikelola oleh BUM Desa.

“Apalagi, dalam tubuh PKPS sendiri ada sejumlah pegiat Desa dan pengurus BUM Desa. Ini menarik untuk diseriusi, sehingga BUM Desa yang berjalan di Bondowoso bukan hanya BUM Desa yang memiliki wisata desa,” harap Andiono. (wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.