Lewat Cakra Manggalingan, Andy Rahma ingatkan Arsitek Ramah Lingkungan

Rudy Hartono - 4 October 2026
Arsitek Andy Rahman (kanan) menjelaskan filosofi karya instalasi "Cakra Manggilingan"dalam Wicara Seniman Art sub 2026 di balai Pemuda Surabaya, Sabtu, (3/10//2026) (foto: debi devega/superradio.id)

SR, Surabaya – Karya instalasi bertajuk “Cakra Manggilingan” karya arsitek Andy Rahman sukses menyita perhatian pengunjung pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya.

Dipajang persis di pintu masuk ruang pamer (Zona 1), karya megah berupa tumpukan material mirip batu bata ini menjadi representasi kuat atas pertemuan disiplin arsitektur, tradisi Nusantara, dan seni instalasi kontemporer.

Secara visual, “Cakra Manggilingan” menyuguhkan struktur material bata yang terpasang hampir melingkar sempurna, dengan kepingan-kepingan bata yang tampak melayang di bagian tengah ruangan.

Namun, instalasi ini tidak sekadar menghadirkan estetika bentuk. Karya kolaboratif Andy Rahman Architect bersama sejumlah mitra ini merepresentasikan hubungan mendalam antara manusia, alam semesta, dan sang Pencipta.

“Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan,” tegas Andy Rahman, alumnus ITS tahun 2004 dalam acara diskusi bertajuk Wicara Seniman, di selasar Balai Budaya Surabaya, Sabtu (3/10/2026).

Lebih jauh dikatakan Andy bahwa nama “Cakra Manggilingan” sendiri diambil dari filosofi Jawa yang menggambarkan siklus hidup manusia yang terus berputar bagaikan roda.

Melalui medium ribuan keping bata limbah hasil riset ramah lingkungan ini, Andy ingin memberikan tamparan sekaligus pengingat ekologis.

“Lingkaran bata yang sengaja dibuat “rengkah” atau pecah menganga mengkritik keserakahan manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan hingga merusak keharmonisan siklus bumi, “ tegas  Andy yang juga pendiri biro  “Andy Rahman Architect”.

Kehadiran Andy Rahman dalam pameran bertema Border (batas), Threshold (ambang), dan Beyond (seberang) ini dikategorikan ke dalam kelompok Beyond.

Menurut kurator Asmudjo J. Irianto, keterlibatan praktisi lintas disiplin seperti Andy membuktikan bahwa batas seni rupa kontemporer kian cair.

“Lewat “Cakra Manggilingan”, Andy Rahman berhasil melampaui fungsi kaku material bangunan menjadi bahasa seni rupa yang mengajak penikmatnya berkontemplasi tentang posisi mereka di bumi yang kian terluka,” pungkas Asmudjo.  (dd/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.