Hasil Tangkapan Ikan Sedikit, Nelayan Trenggalek Melarung Sesaji

Rudy Hartono - 24 April 2026
Nelayan dibantu petugas melarung tumpeng nasi kuning berukuran jumbo dalam prosesi larung Sembonyo di Pelabuhan Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (23/4/2026). (foto: antara)

SR, Trenggalek – Ratusan nelayan di pesisir Teluk Prigi, Jawa Timur, Kamis (23/4/2026), melarungkan aneka sesaji hasil bumi dalam tradisi Larung Sembonyo sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan melaut, meski saat ini mereka menghadapi kondisi minimnya hasil tangkapan ikan.

Tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Selo dalam penanggalan Jawa itu berlangsung di kawasan Kecamatan Watulimo dan diikuti ribuan warga serta wisatawan yang memadati pesisir pantai.

Ketua Panitia Larung Sembonyo Wanto mengatakan ritual tersebut merupakan warisan turun-temurun masyarakat nelayan yang tidak hanya bermakna budaya, tetapi juga sarat nilai spiritual.

“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan saat melaut, sekaligus harapan agar hasil tangkapan kembali membaik,” katanya.

Rangkaian acara diawali kirab buceng atau tumpeng raksasa berisi hasil bumi dari Kantor Kecamatan Watulimo menuju Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi.

Setibanya di pelabuhan, nelayan dan tokoh masyarakat menggelar doa bersama sebelum prosesi pelarungan.

Sesaji kemudian dibawa ke tengah laut menggunakan kapal utama dan diiringi ratusan perahu nelayan yang membentuk konvoi panjang di perairan selatan Jawa.

Selain buceng, pelarungan juga mencakup berbagai sesaji sebagai simbol persembahan dan doa, sekaligus wujud penghormatan terhadap leluhur, khususnya tokoh pembuka wilayah pesisir Prigi, Tumenggung Yudonegoro.

Pelaksanaan Larung Sembonyo tahun ini memiliki catatan berbeda dibanding tahun sebelumnya. Wanto menyebut kondisi hasil tangkapan ikan masih rendah akibat faktor alam.

“Tahun ini masih belum ada ikan atau belum musimnya, berbeda dengan tahun lalu,” ujarnya.

Meski demikian para nelayan tetap melaksanakan tradisi tersebut sebagai ikhtiar spiritual kolektif agar masa paceklik segera berakhir dan hasil laut kembali melimpah.

Selain sebagai ritual adat, Larung Sembonyo juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas masyarakat pesisir serta menjaga nilai gotong royong dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. (*/ant/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.