Viral Sesar Baru Surabaya-Madura, Pakar ITS: Itu Data Lama dan Tak Aktif

Rudy Hartono - 11 September 2026
pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si

SR, Surabaya – Isu mengenai keberadaan “sesar baru” yang melintasi wilayah Madura hingga Surabaya baru-baru ini viral di media sosial dan memicu kekhawatiran terhadap acaman gempa di kalangan masyarakat.

Menanggapi itu, pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si., angkat bicara untuk meluruskan disinformasi yang beredar. Amien menegaskan bahwa narasi dalam video viral tersebut tidak akurat karena menggunakan referensi data usang yang sudah tidak lagi relevan dengan temuan ilmiah terbaru.

Berdasarkan kajian detail dan pembaruan data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2024, jalur yang diklaim sebagai “sesar baru” Surabaya-Madura tersebut sebenarnya telah dikategorikan sebagai patahan tidak aktif. Prof. Amien menjelaskan bahwa informasi yang viral tersebut justru merujuk pada peta tematik tahun 2008 yang hanya didasarkan pada penafsiran geologi awal.

“Itu data tahun 2008 dan itu lama, ada patahan yang berdasarkan penafsiran saja sebenarnya,” ungkap peneliti senior Pusat Studi Bencana ITS tersebut, Kamis (10/9/2026)

Secara ilmiah, data terkini menunjukkan bahwa hanya ada dua sesar aktif yang terverifikasi melintasi wilayah Surabaya dan sekitarnya. Kedua sesar tersebut adalah Sesar Surabaya, yang jalurnya meliputi kawasan Mayjen Sungkono hingga Cerme, Gresik. Kedua,  Sesar Waru yang memanjang dari Karangpilang hingga ke arah Madiun.

Prof. Amien menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk memahami bahwa keberadaan sebuah patahan tidak secara otomatis berarti wilayah tersebut berada dalam ancaman gempa besar yang akan terjadi dalam waktu dekat.

ITS sendiri telah menjalin kerja sama resmi (MOU) dengan Badan Geologi Kementerian ESDM untuk melakukan pemetaan dan kajian detail mengenai potensi patahan aktif di Jawa Timur. Melalui studi mendalam ini, para ahli dapat membedakan mana struktur geologi yang masih menunjukkan aktivitas seismik dan mana yang sudah mati.

“Dari kajian detail muncul dua sesar tadi yang dulu sudah sering dipublish, jadi Sesar Surabaya dan Sesar Waru,” tambah Prof. Amien saat di wawancarai kru SuperRadio.

Edukasi mengenai perbedaan parameter sesar aktif dan tidak aktif menjadi kunci untuk meredam kepanikan massal. Menurut Prof. Amien, sesar tidak aktif tidak memiliki potensi untuk menghasilkan getaran gempa bumi. Beliau mengingatkan agar pembuat konten atau penyebar informasi di media sosial lebih bertanggung jawab dalam mencantumkan sumber asli agar tidak menyesatkan publik.

Fokus Mitigasi dan Pasang Sensor Gempa

Merespons keberadaan sesar Surabaya dan sesar Waru, Amien menyarankan Pemerintah Kota Surabaya fokus menyiapkan mitigasi di dua kawasan itu. Karena sesar aktif memiliki potensi gempa meskipun dalam skala kecil.

“Wilayah Mayjen Sungkono menjadi salah satu titik yang perlu disoroti karena berada di Sesar Surabaya karena statusnya sebagai pusat perkantoran dan hunian vertikal yang padat,” kata Prof Amien.

Diterangkannya bahwa jalur sesar aktif yang melintasi area perkotaan ini menuntut standar keamanan bangunan yang lebih tinggi. Ia menyarankan Pemkot Surabaya mengintegrasikan data sesar aktif ini ke dalam perencanaan tata ruang kota yang lebih aman.

“Pemkot Surabaya agar lebih aktif melakukan pencegahan karena memiliki dua patahan aktif, salah satunya dengan memasang alat sensor,” tutur Prof. Amien

Pemasangan sensor ini dianggap vital untuk memonitor pergerakan tanah secara terus-menerus, sehingga setiap aktivitas seismik sekecil apa pun dapat terdeteksi lebih dini sebagai bagian dari sistem peringatan dini bagi warga kota.

Prof. Amien mengimbau masyarakat Surabaya dan sekitarnya agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi bencana yang tidak memiliki basis data ilmiah kuat. Publik diminta untuk selalu melakukan kroscek terhadap setiap informasi yang beredar melalui situs resmi instansi terkait seperti Kementerian ESDM atau BMKG.

“Masyarakat diminta untuk mencantumkan sumber informasi yang jelas sebelum menyebarkan sebuah informasi agar tidak memicu kepanikan massal yang tidak perlu,” tutup pakar geologi tersebut. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.