Endang, Penari Jalanan Asal Pace

Yovie Wicaksono - 5 September 2020
Endang Suharti. Foto : (Super Radio/ Rahman Halim)

SR, Kediri – Di tengah sepi dan dingin malam, suara gemerincing terdengar nyaring mengikuti setiap langkah kaki Endang Suharti (48) perempuan asal Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Endang adalah penari jalanan. Tiap hari ia berkeliling untuk mencari sesuap nasi demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Dari pada saya mencuri, saya lebih baik kayak gini. Toh ini pekerjaan,” ujar Endang sambil menyeka keringat  yang menghapus riasan diwajahnya.

Selepas kumandang adzan Isya, atau mulai 19.00 – 00.00 WIB,  Endang berjalan menyusuri sepanjang jalan protokol Kota Kediri. Setiap ada warung yang ramai pengunjung langkahnya terhenti dan ia bunyikan musik tradisional dari sound system yang dibawanya.

Endang menari dan menggerak-gerakan miniatur berbentuk celeng (babi hutan) yang dibawanya sambil mengikuti alunan musik jaranan. Ia terus menggerakkan badannya sambil menunggu pemberian uang dari orang lain.

“Ini namanya tarian jaranan celeng khas Tulungagung,” katanya kepada Super Radio.

Lima jam berkeliling, Endang mendapatkan penghasilan paling sedikit Rp 60 ribu. Jika beruntung, ia bisa memperoleh Rp 100 ribu. Suatu ketika,  ia pernah menari di Jalan Dhoho pada malam hari diberi uang Rp 50 ribu oleh warga luar kota yang kebetulan melintas membeli makanan disana.

Penghasilan yang diperoleh, digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika ada sisa uang, biasanya disimpan untuk membeli kelengkapan alat menari.

“Kemarin habis beli sound system mini harganya Rp 400 ribu, sisa uangnya buat makan sehari-hari bersama suami,” ujarnya.

Rute yang dilalui Endang setiap harinya adalah Jalan KDP Slamet, Jalan Doho, Jalan Joyoboyo, serta Jalan Hayam Wuruk. Semua itu dilewati  dengan berjalan kaki kurang lebih 3 kilometer.

Endang menjadi penari jalanan, karena Sutrisno (suami) yang berusia 60 tahun tidak memiliki penghasilan tetap dari mengayuh becak.  Sementara putra semata wayangnya, sudah berkeluarga dan tinggal bersama istri dirumah mertua.

“Suami sudah tua, pekerjaannya sebagai tukang becak. Selisih usianya dengan saya terpaut 12 tahun. Kalau anak saya sudah berkeluarga dan kini tinggal bersama istrinya di Kecamatan Mojoroto. Karena masih belum punya rumah dan  tinggal dirumah mertua, belum saatnya saya ikut kesana,” terangnya.

Endang belum memiliki tempat tinggal tetap. Setiap hari sebelum berangkat menari dijalanan, ia memilih mandi dan merias diri di ponten umum Pasar Tradisional Kelurahan Bandar Lor.

Endang  mulai belajar menari sejak lulus Sekolah Dasar. Lantaran terkendala biaya, ia terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya dan memilih untuk menekuni bakat yang dimiliki sebagai penari jaranan.

Saat beranjak dewasa, ia sering tampil bersama grup kesenian jaranan di kampung kelahirannya dari kampung ke kampung. Ia kemudian menikah dan dikaruniai satu orang anak. Kini Endang dan suami tinggal dan tidur  di kawasan Dermaga Sungai Brantas.

Selama menjadi penari jalanan, kendala yang dihadapi Endang adalah faktor  cuaca. Disaat hujan, ia tidak bisa keluar untuk menari. Kondisi pandemi seperti sekarang turut mempengaruhi turunya pendapatan yang ia terima.

“Kalau pandemi seperti sekarang , banyak juga orang yang takut keluar rumah, pendapatan berkurang,” pungkasnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.