Ekspedisi JawaDwipa Dorong Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana Sesuai Kearifan Lokal

Yovie Wicaksono - 2 December 2022
Tim Ekspedisi JawaDwipa saat konferensi pers di Gedung BPBD Jatim, Kamis (1/12/2022). Foto : (Super Radio/Hamidiah Kurnia)

SR, Surabaya – Tim Ekspedisi JawaDwipa meminta Pemerintah lakukan kolaborasi penguatan mitigasi bencana sesuai kearifan lokal.

Hal ini disampaikan Ketua Peneliti Ekspedisi JawaDwipa Lien Saruroh saat memaparkan hasil penelusuran jejak sejarah bencana selama 20 hari ke berbagai daerah Jawa Timur (Jatim).

“Persoalan penanggulangan bencana belum menjadi sebuah prioritas dalam pembangunan daerah. Belajar dari gempa Cianjur, pengurangan risiko bencana yang terjadi di sesar aktif sangat penting dilakukan,” kata Lien dalam konferensi pers di Gedung BPBD Jatim, Kamis (1/12/2022).

Ia mengatakan, dari hasil penelusuran, ditemukan ketimpangan antara wilayah Selatan dan Utara Jawa. Dimana, daerah Selatan yang rawan gempa cenderung lebih siap terhadap bencana karena upaya mitigasinya terbentuk sejak zaman klasik atau masa kerajaan.

Sedangkan di Utara, karena minim gempa, pengetahuan lokal masyarakat lebih kecil, sehingga saat terjadi bencana dampaknya terasa lebih besar. 

“Ada mitigasi di masa lalu yang dituangkan dalam prasasti, hingga arsitektur, contohnya Watu Gong yang sudah ada sejak zaman megalitik. Dan situs seperti ini banyak ditemukan di Malang, Situbondo, Banyuwangi, daerah yang rawan gempa bumi,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, perlu kolaborasi banyak pihak untuk memetakan pola mitigasi yang tepat. Pendekatannya pun harus menggunakan metode berbeda sesuai ancaman bencana dan kearifan lokal yang ada. 

Selain itu, berdasarkan jejak sejarah yang ditemukan, maka pemerintah perlu memperhatikan aspek pembangunan di kawasan yang dilalui sesar aktif darat agar bisa mengurangi risiko dari bencana yang ada.

“Setelah ditemukan banyak temuan kami melihat banyak diantara daerah yang kami kunjungi belum memprioritaskan pembangunan yang beraspek pengurangan risiko bencana di dalamnya,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan Ahli Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Amien Widodo. Ia menjelaskan, hasil temuan tersebut menunjukan bahwa para leluhur sudah paham cara menghadapi bencana. Hal inilah yang seharusnya ditiru dan menjadi inovasi terkait mitigasi yang bisa digunakan sampai masa depan. 

“Itu adalah hasil karya asli dari leluhur kita, dan itu jika bisa kita tawarkan ke seluruh Indonesia pasti luar biasa,” ucapnya.

Direktur Skala Indonesia Trinirmalaningrum menambahkan, terkait kebencanaan hendaknya tidak hanya berkutat di penanganan yang bersifat teknologis, melainkan harus melibatkan warga lokal.

“Sehingga yang ingin kita dorong adalah menghidupkan kembali pengetahuan lokal tentang tsunami dan gempa karena pendekatan lokal lebih mengena,” ujarnya.

“Mengkontekstualisasi pengetahuan lokal itu sangat penting karena bencana alam terjadinya di lokal, misal dengan kentongan,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.