Drama Musikal Arutala Sukrasana, Wujud Inklusivitas di Panggung Penuh Bakat
Para lakon drama musikal wayang orang Arutala Sukrasana (Disabilitas Sang Pamungkas) unjuk aksi dipandu dalang di gedung Cakdurasim, Minggu (7/12/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)
Penampilan anak-anak down syndrom berperan sebagai taman Sri Wedari yang dipindahkan Sukrasana (tokoh utama yang digambarkan buruk rupa dan fisik tak sempurna) dalam drama musikal wayang orang di gedung Cakdurasim, Minggu (7/12/2025).. (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)
(kiri) tokoh Sukrasana (tokoh utama yang digambarkan buruk rupa dan fisik tak sempurna) ketika dirayu sang kakak untuk membantu memindahkan taman Sri Wedari dengan kekuatannya. (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)
Pertunjukan musik oleh band Mata Hati (disabilitas netra) menghibur penonton sebelum drama musikal Arutala Sukrasana (Disabilitas Sang Pamungkas) dimulai di gedung Cakdurasim, Minggu (7/12/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)
Disabilitas fisik Cerebral palsy Windi Oktavia (34) asal Gresik saat terhibur menyaksikan drama musikal Arutala Sukrasana (Disabilitas Sang Pamungkas) di gedung Cakdurasim, Minggu (7/12/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)
Para disabilitas fisik di barisan penonton Arutala Sukrasana (Disabilitas Sang Pamungkas), Minggu (7/12/2025). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)
SR, Surabaya – Pertunjukan drama musikal bertajuk Arutala Sukrasana (Disabilitas Sang Pamungkas) inisiasi Komunitas Mata Hati sukses digelar di gedung Cakdurasim Surabaya, Minggu (7/12/2025).
Uniknya, seperti nama pertunjukan, seluruh aktor hingga pemain musik merupakan teman-teman disabilitas. Ketua Komunitas Mata Hati, Danny Heru Dwi Hartanto menyebut total sekira 30 orang terlibat dalam drama musikal. Mereka tergabung antara disabilitas netra, tuli, daksa, disabilitas fisikz hingga down syndrom.
Danny menjelaskan, tujuan acara guna menunjukan pada khalayak umum bahwa penerapan inklusifitas harus lebih solutif. Tak sekadar dibawa kesana-kemari sebagai penonton, tapi disabilitas juga dilibatkan aktif sebagai pelaku yang produktif. Alhasil munculah sentilan satir isu disabilitas yang diwujudkan di beberapa dialog drama musikal.
“Kami ingin menunjukan bahwa yang namanya inklusif itu seperti ini. Teman teman disabilitas nggak cuma digandeng, nggak cuma didorong kursi rodanya tapi juga dilibatkan kegiatan kegiatan dan terlibatnya aktif,” tuturnya.
Pemilihan judulnya pun tak sembarangan. Danny mengatakan, nama Arutala, lanjutnya, diambil dari bahasa sansekerta yang artinya cita-cita mulia. Sedangkan Sukrasana merupakan nama tokoh pewayangan yang punya fisik kurang sempurna namun baik hati dan punya kekuatan untuk menolong sesama.
Filosofi itu yang mereka ambil untuk mementaskan drama kolosal dengan tokoh utama Sukrasana yang membantu kakaknya mendapatkan pujaan hati dengan memindahkan taman Sri Wedari.
“Ini mengisahkan tentang bagaimana seorang adik yaitu sukrasana yang punya fisik yang jelek dan segala macam dan bisa juga disebut disabilitas, tapi dia punya kelebihan. Dia punya kesaktian melebihi kakaknya, justru dia nanti yang berperan bantu kakaknya menyelesaikan tugas dari raja,” ujarnya.
Tak berhenti disitu. Wujud inklusif juga tampak dari panitia disana. Dimana para disabilitas turut dilibatkan berdampingan bertugas dengan panitia lainnya.
“Jadi berperan kalau di drama, kemudian memainkan musik. Nggak hanya itu, tapi menurut saya yang lebih penting adalah di kepanitiaan, karena disitu teman teman disabilitas betul betul peran nyata.
Pertunjukan drama musikal pun sukses menghibur penonton. Salah satunya Windi Oktavia (34). Perempuan disabilitas fisik cerebral palsy itu mengaku sangat terhibur dan terharu. Setelah menonton pertunjukan, semangatnya jadi makin tinggi untuk beraktivitas.
“Bagus aktingnya, senang membuat saya terharu dengan mereka, walaupun punya kekurangan fisik bisa tampil dengan bagus. Saya jadi makin semangat lagi buat hidup,” ungkapnya.
Sekadar informasi, pertunjukan drama musikal tersebut merupakan rangkaian dari gebyar Hari Disabilitas Internasional. Sebelum mulai pertunjukan, penonton lebih dulu dibibur dengan lantunan lagu oleh band Mata Hati, nyanyian dari keluarga Oemar Said, hingga pembacaan puisi. (hk/red)
Tags: arutala sukrasana, Cak Durasim, drama musikal, hari disabilitas internasional, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





