Dampak Pandemi, Banyak Masyarakat Akses Layanan Psikologi

Yovie Wicaksono - 11 June 2020
Ilustrasi. Foto : (Thinkstock)

SR, Jakarta – Mewabahnya virus corona (Covid-19) yang belum jelas kapan akan berakhirnya, tak hanya menjadi masalah lokal dan nasional saja. Namun menjadi masalah global yang tentunya berdampak di berbagai sektor kehidupan. Tak hanya menyerang kesehatan fisik, pandemi ini juga berdampak pada kesehatan mental atau jiwa.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas Laporan Gugus Tugas Covid-19 pada Senin (20/4/2020), juga telah memberikan arahan bahwa pelayanan kesehatan jiwa menjadi penting dilakukan, karena permasalahan Covid-19 ini tidak hanya sebatas persoalan kesehatan semata, tetapi juga mencakup permasalahan psikologis dan sektor lainnya.

Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan cara meluncurkan Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA), pada April 2020 lalu, yang bisa diakses melalui call center 119 ext 8, guna memfasilitasi atau memberikan layanan untuk membantu mengurangi ketidaknyamanan psikologi masyarakat selama pandemi ini.

Psikolog, Dr. Rini Sugiarti dari Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA) – HIMPSI mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun menunjukkan animo masyarakat untuk mengakses layanan tersebut tergolong tinggi. Bahkan, keluhan yang masuk tak hanya terkait dengan Covid-19.

“Ternyata temuan di lapangan itu yang konsultasi tidak hanya bicara tentang Covid-19. Tetapi ada hal-hal lain diluar covid, misalkan ketakutan dengan KDRT keluarga. Tetapi tetap kita berikan pelayanan,” ujarnya dalam diskusi daring, Rabu (10/6/2020).

Masyarakat yang mengakses layanan (client) tersebut juga tidak terbatas pada profesi maupun gender tertentu, baik perempuan maupun pria. Sedangkan berdasarkan usia, lebih banyak pada usia produktif, yakni dewasa dan remaja.

Rini mengatakan, biasanya kondisi kesehatan jiwa orang yang berkonsultasi, berada dalam emosi yang beragam, seperti cemas, takut, marah, bingung, dan lain sebagainya. Tapi, sebagian besar keluhan yang masuk tergolong berisiko.

“Aduan yang masuk bicara tentang keluhan yang berisiko. Di mana kalau terakumulasi dan tidak teratasi, maka akan menimbulkan keputusasaan, depresi, frustasi, yang akan berdampak ke depan. Bahkan, ada beberapa yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri,” katanya.

Rini mengatakan, client juga paham dan mengakui dirinya mengalami gangguan tidur atau insomnia, letih, lesu, demotivasi akibat dari rasa ketidaknyamanan psikologi selama pandemi ini.

“Biasanya kami akan memberikan yang pertama konseling psikologis terlebih dahulu. Kalo kami rasa berat, kami akan rujuk ke psikolog klinis. Jika client membutuhkan obat, kami akan mengarahkan ke psikiater,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan memberikan rujukan ke dokter umum, jika permasalahan yang dialami client tidak terkait dengan kejiwaan. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.