Dampak Corona untuk Lingkungan 

Yovie Wicaksono - 23 April 2020
Suasana di Kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (3/4/2020). Foto : (Antara)

SR, Surabaya – Pandemi virus corona (Covid-19) telah membawa dampak pada segala sendi kehidupan manusia. Untuk mencegah penyebarannya, pemerintah telah mengimbau masyarakat untuk melakukan physical distancing dengan cara belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Bahkan, beberapa wilayah telah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Motivator Lingkungan dan Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya Adi Candra mengatakan, dengan adanya pemberlakuan PSBB, banyak industri dan sarana transportasi yang harus berhenti, sehingga jumlah emisi karbon di udara pun juga turun sangat drastis.

“Ketika industri dan transportasi terbatasi, masyarakat diimbau bekerja dari rumah, tingkat polusi terjadi penurunan secara signifikan sehingga kualitas udara kita jadi lebih baik. Berdasarkan pantauan Dinas Lingkungan Hidup melalui papan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang ada di sekitar Grand City menunjukkan kawasan Surabaya selatan dalam kondisi baik dengan ukuran 48 Partikulat (PM10),” ujar Adi dalam Diskusi Ilmiah Hari Bumi 2020 yang bertemakan “Persepektif Pandemi Covid-19 ditinjau dari Segi Lingkungan”, Rabu (22/4/2020).

Selain di Surabaya, foto yang diambil para penggiat lingkungan menunjukkan langit di Jakarta terlihat lebih cerah dari kondisi biasanya yang pekat akan polusi udara. Bahkan, dalam foto tersebut terlihat ujung Gunung Salak yang sangat langka terlihat.

“Ketika ada wabah Covid-19, disatu sisi masyarakat sangat terancam, tetapi Tuhan selalu memberikan sebuah makna yang tersirat, yaitu lingkungan bisa memperbaiki dirinya sendiri ke kondisi yang lebih baik, ketika faktor yang mempengaruhi atau menghambat seperti polutan itu bisa ditekan seperti saat ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, tidak ada pihak yang menginginkan penurunan emisi terjadi dengan cara seperti ini. Namun jika ada hikmah yang bisa diambil dari situasi ini, pandemi memperlihatkan bahwa masyarakat bisa melakukan banyak hal jika mereka saling menjaga dan membantu satu sama lain, ini juga menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk menghadapi perubahan iklim.

“Bumi kita sudah sangat dirusak oleh manusia yang tidak bertanggung jawab, maka banyaklah beraktivitas untuk pelestarian dan penyelamatan lingkungan dalam bentuk apapun itu, mulailah hari ini dengan apa yang bisa kita lakukan,” ujarnya.

“Kita harus bisa menjadi agen perubahan bagi masyarakat sekitar. Tetap jalankan prinsip PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), tetap pakai masker, kemudian tetap belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Ini bukan akhir dari dunia, mari kita tetap kuat dalam melawan corona dan percaya bahwa kita pasti bisa,” imbuhnya.

Sekedar informasi, diskusi ilmiah yang digelar dalam rangka Peringatan Hari Bumi 2020 ini diselenggarakan oleh Departemen Advokastra dan Departemen Sosial Lingkungan dari BEM FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui grup WhatsApp yang diikuti oleh sekitar 240 peserta dari berbagai daerah. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.