Corona Mengganas, Jamu Diburu

Yovie Wicaksono - 25 March 2020
Beberapa jamu buatan Sularno dalam pameran jamu. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Merebaknya virus Corona (Covid 19), membuat jamu tradisional menjadi “buruan” masyarakat. Tidak terkecuali bagi mereka yang tinggal di kota Surabaya.

Imbasnya, para penjual jamu menjadi kelabakan dalam melayani tingginya permintaan. Seperti mereka yang tinggal di kawasan Kedurus Pasar Lama RT 1 RW 1 Surabaya.

“Disini ada 150 Kepala Keluarga dan lebih dari 80 orang adalah penjual jamu. Dulunya justru lebih banyak, bisa dibilang 90 persennya penjual jamu. Tapi sekarang banyak yang beralih profesi atau pindah dari sini,” ujar Ketua RT setempat, Sularno, Rabu (25/3/2020).

Mereka yang berprofesi penjual jamu, bukanlah warga asli setempat, melainkan pendatang asal Solo, Jawa Tengah yang lama tinggal sejak kecil bersama dengan orang tua maupun sanak saudaranya.

Kini, mereka adalah generasi kedua penerus usaha keluarga untuk membuat sekaligus menjual jamu.

Imbas Corona, menjadi berkah bagi para penjual jamu ini. “Kalau dulu bisa jual 14 sampai 16 botol, sekarang bisa jual sampai 25 botol jamu perharinya. Paling dicari memang ya empon-empon (kunyit, jahe, temulawak, serai, dan kunir),” ujar salah satu penjual jamu, Sugiyatmi (53).

Para pedagang jamu, seperti Sugiyatmi harus bangun dan berangkat lebih pagi dari biasanya karena telah ditunggu pelanggan. Tak jarang mereka membawa jamu tersebut di tempat kerjanya.

Sugiyatmi sendiri awalnya adalah seorang penjual jamu gendong yang lengkap dengan jarik, kebaya, dan selendang yang digunakan untuk menggendong jamunya. Tahun 1995 sampai sekarang dirinya mulai berjualan dengan menggunakan sepeda.

Tingginya permintaan dan terbatasnya bahan dasar jamu, otomatis membuat harga bahan dasar jamu melonjak naik hingga 3x lipat.

Salah satu bahan dasar yang naik adalah kunir putih, Sugiyatmi mengatakan, awalnya kunir putih dipasaran satu kilogramnya dijual hanya Rp 6000 kini menjadi Rp 20.000.

Oleh karena itu, demi menjaga khasiat dan rasa jamu ia menaikkan sedikit harga jamu yang dijajakkannya. Satu gelasnya dari Rp 2000 menjadi Rp 2.500 hingga Rp 3000. Kemudian untuk per botol besarnya dari harga Rp 18.000 menjadi Rp 20.000.

“Saya kan jualannya di perumahan sekitar Wiyung, orangnya juga pada ngerti kalau bahan dasarnya lagi naik. Mereka bilang gak masalah asal rasa dan khasiatnya sama,” ujar perempuan yang berjualan jamu sejak sekitar 35 tahun yang lalu ini.

Sementara itu, Sutinah (50) yang menjual jamunya di kawasan Kedurus gang 2 hingga gang 4, tak bisa menaikkan harga jamunya terlalu mahal karena berjualan di kampung.

“Ya kalau mahal-mahal gak ada yang mau beli juga. Kalau di kampung itu harga per gelasnya ya Rp 2000 terus yang botol besar itu dari Rp 13.000 menjadi Rp 15.000,” ujar Sutinah.

Para penjual jamu ini menganggap, adanya corona membuat masyarakat lebih terbuka dan justru mulai memburu minuman tradisional yang sempat hampir ditinggalkan ini. Padahal khasiat jamu ini sudah terbukti secara turun temurun.

“Dulu itu banyak yang takut minum jamu karena endapannya berbahaya, terus kalau hamil katanya gak boleh minum jamu. Padahal jamu ini bahannya alami semua gak ada pengawetnya. Orang jaman dulu itu minumnya jamu, makanya kuat-kuat. Jamu itu sebagai pencegahan dari penyakit, kan lebih baik mencegah dari pada mengobati,” ujar Sutinah.

Dikarenakan banyaknya penduduk setempat yang menjadi penjual jamu, Sularno bersama dua orang lainnya yang juga berprofesi sebagai penjual jamu berinisiatif membuat paguyuban yang diberi nama Paguyuban Jamu Solo pada 15 tahun silam.

Paguyuban ini untuk saling menjaga tali silaturahmi diantara mereka dan menjadi wadah untuk saling berbagi, tolong menolong dan memecahkan masalah bersama anggota paguyuban.

“Sekalipun kita sama jualan jamu, kita tidak membatasi wilayah jualan kami. Dalam satu wilayah yang jualan ada lebih dari satu ya tidak masalah. Karena prinsip kami adalah rezeki tidak akan tertukar, semua sudah ada bagiannya masing-masing,” ujar pria yang berjualan jamu sejak 20 tahun lalu ini.

Sularno sendiri adalah penjual jamu. Meski kebanyakan penjual jamu adalah perempuan, ia tak pernah mempermasalahkan hal tersebut selama rezeki yang didapatkannya adalah halal.

“Dulu ya dibilang lanang kok dodol jamu, gak isin ta (pria kok berjualan jamu, apa tidak malu). Saya sampai mikir Ya Allah sek rekosone dodolan jamu (kenapa sesusah ini jualan jamu). Tapi ya terus saya cuek aja karena prinsip saya mencari nafkah,” ujar Sularno.

Ia berjualan jamu setelah menikah dengan istrinya, Warti (49) yang juga berjualan jamu sejak tahun 1988. Kini, ia bersama sang istri berjualan jamu secara bergantian menggunakan sepeda motor. Sang istri berjualan hingga pukul 10 pagi, dan dilanjutkan Sularno.

Untuk mendapatkan bahan dasar jamu, para penjual jamu di Kedurus telah memiliki penjual langganan yang setiap satu ataupun dua hari akan mengirimkan bahan dasar jamu. Mereka juga terkadang membelinya di pasar sepanjang atau pasar wonokromo.

Disaat kebanyakan orang sedang tertidur lelap, para penjual jamu ini mulai beraktivitas sejak pukul 3 dini hari untuk mulai meracik jamunya hingga siap di jajakkan pada pagi harinya.

Sekitar pukul 6 pagi, satu persatu penjual jamu mulai keluar dari rumah untuk menjajakkan jamunya.

“Disini kalau pagi itu kayak karnaval, yang jualan jamu jejer-jejer mau berangkat jualan,” ujar Sularno.

Kini, Sularno dan penjual jamu lainnya sedang gelisah karena tidak adanya generasi penerus. Banyak dari anak mereka yang memilih untuk bekerja lain profesi.

“Anak saya diajari bikin jamu itu susah, katanya ribet bikinnya. Jamu sendiri kan racikannya juga harus pas. Tapi kalau diminta jualan mereka mau,” ujar Warti. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.