Ciri Parental Burnout dan Cara Mengatasinya

Yovie Wicaksono - 22 June 2022

SR, Jakarta – Parental burnout merupakan kondisi yang timbul karena stres dan kelelahan jangka panjang yang berkaitan dengan mengasuh anak. Orangtua yang mengalami parental burnout dikarenakan mengalami kelelahan secara fisik dan mental.

“Orangtua bisa mengalami burnout jika mengalami beban yang tidak sesuai dengan porsinya, bahkan parental burnout bisa lebih buruk konsekuensinya dibandingkan dengan job burnout karena orangtua akan selalu menjadi orangtua, tidak bisa mengundurkan diri seperti orang yang bekerja di kantor, maka dari itu pencegahan atau kesadaran dari parental burnout sangat diperlukan,” kata Psikolog Anak dan Remaja Kalbu, Desti Aprianggun.

Desti mengatakan, parental burnout itu terjadi karena orangtua merasa terjebak dalam situasi yang tidak nyaman dan tanpa jalan keluar. 

Dijelaskan, biasanya yang mengalami parental burnout ini lebih banyak adalah wanita atau seorang ibu, walaupun tidak menutup kemungkinan ayah juga bisa mengalaminya. Karena di banyak negara, beban pengasuhan anak lebih banyak diberikan oleh ibu dan tuntutan multitasking atau melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan biasanya dilakukan oleh ibu.

“Kalau kata pepatah, ibu adalah kunci kebahagiaan di rumah, jadi kebanyakan karena ibu yang mengalami burnout maka bisa berpengaruh ke ayah dan bisa berkembang menjadi couple burnout, sehingga masalah sepele bisa berkembang dan saling menyalahkan. Selain dengan pasangan, parental burnout juga bisa berpengaruh ke anak,” kata Desti.

Menurut Desti, stres dan burnout merupakan dua hal yang berbeda. Stres sendiri adalah hal lumrah yang sering terjadi dalam kehidupan, memiliki durasi hanya sebentar dan bisa diatasi sendiri. 

Sedangkan burnout terjadi karena stres yang berkepanjangan yang tidak teratasi, memiliki durasi yang lebih lama, dan tidak bisa diatasi sendiri. Sementara depresi terjadi karena burnout yang tidak diatasi dan tidak dapat berfungsi di berbagai peran.

Siapa saja yang beresiko mengalami parental burnout yaitu orangtua yang perfeksionis dan ingin menjadi orangtua yang sempurna, memiliki pengetahuan yang kurang memadai tentang pengasuhan, working mom/full time mom, kurang dukungan secara emosional maupun dukungan praktis dari pasangan/keluarga, memiliki anak berkebutuhan khusus, dan orangtua yang kemampuan mengelola emosi dan kemampuan manajemen stresnya kurang.

“Menurut penelitian, parental burnout paling tinggi terjadi pada orangtua yang memiliki anak di bawah usia 12 tahun daripada orangtua yang memiliki anak usia di atas 12 tahun. Dan resiko lebih tinggi juga dialami oleh ibu bekerja yang memiliki minimal 2 anak,” kata Desti.

Ciri-ciri parental burnout ada dua, secara fisik dan secara emosial. Ciri fisik yaitu sering merasakan kelelahan, mengalami sulit tidur/gangguan tidur, nafsu makan berkurang, sering merasakan sakit kepala dan nyeri otot, dan sulit konsentrasi dan mudah lupa. 

Ciri emosional yaitu emosi lebih tidak stabil saat mengasuh anak, sering merasa bersalah dan tidak puas pada diri sendiri terutama terkait pengasuhan, merasa tidak berdaya dan terjebak dengan situasi sehingga tak jarang berpikir mengandai-andai “coba kalau gini, coba aja tidak gitu”, merasa gagal menjadi orangtua, merasa sendirian, cenderung menghindari anak, dan menarik diri dari orang lain.

“Parental burnout meningkatkan risiko penelantaran anak atau kekerasan terhadap anak,” kata Desti.

Cara mengatasi parental burnout, kata Desti, adalah dengan sharing dan cari bantuan, hindari penyebab/risiko kemungkinan, lakukan self care, melakukan evaluasi diri, dan mengikuti support group. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.