Cara Pedagang Jajanan Tradisional Hadapi Pandemi Corona

Yovie Wicaksono - 21 May 2020
Sukadi dan Sugiarti, pasutri penjual jajanan tradisional di kawasan Setono Betek, Kota Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Pandemi Corona (Covid-19) yang terjadi saat ini berimbas pada pendapatan para pedagang, tidak terkecuali Sukadi dan Sugiarti, pasutri penjual jajanan tradisional di kawasan Setono Betek, Kota Kediri.

Saat ditemui Super Radio, Sugiarti mengaku saat ini omset penjualannya turun drastis. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran para pelanggan dengan kondisi saat ini.

“Masyarakat datang ke sini kan kira-kira merasa khawatir, karena kondisi seperti saat ini,” ujarnya .

Sebelum pandemi Corona, Sugiarti bisa meraup Rp500 ribu dalam sehari, namun untuk sekarang tersisa separuhnya, atau Rp250 ribu.

“Sekarang dapat Rp 250 ribu saja sudah bagus, kalau dulu sebelum corona sehari dapat uang bisa Rp 500 ribu,” ujarnya.

Untuk mensiasati agar tidak terus merugi, jika kue tradisionalnya masih ada, ia bisa menjual kembali barang dagangannya tersebut kepada penjual sayur keliling.

“Kita panasi kuenya, kita jual kembali ke bakul etek keliling. Dari saya mereka beli harga Rp 3000, terus dijual ke konsumen lagi harga Rp 4000,” Kata warga Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini.

Sugiarti setiap harinya berjualan bersama suaminya. Jajanan yang dijualnya pun harganya bervariatif, satu bungkus antara Rp 3000 sampai Rp 5000.

“Saya nggak pernah menolak rejeki, orang mau beli Rp 3000 atau Rp 5000 tetap saya layani,” kata Sugiarti.

Selain penurunan omset, Sugiarti juga harus membatasi waktu berjualan pada saat pandemi. Jika biasanya berjualan hingga 23.00 WIB, kini hanya sampai 21.00 WIB.

Sugiarti juga harus menyesuaikan dengan kondisi sekarang. Jika sebelumnya bisa membuat klanting dan klepon hingga 4 kilogram, sekarang hanya 2 kilogram.

Sugiarti berjualan kue tradisional sejak tahun 1982. Jajanan tradisional yang dijual antara lain cenil, klepon, ongol-ongol, lupis, ketan hitam, getuk, tiwul dan nasi jagung.

Hasil dari berjualan jajanan tradisional, perempuan berusia 62 tahun ini bisa menyekolahkan empat orang anaknya .

Ia berharap, pandemi Corona segera berakhir, agar bisa berdagang dan mendapatkan hasil seperti semula. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.