Bunuh Diri, Berawal Dari Konflik Yang Tidak Selesai

Yovie Wicaksono - 21 November 2019
Ilustrasi

SR, Surabaya – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, di dunia, setiap tahunnya 800.000 orang meninggal karena bunuh diri atau setiap 40 detik satu orang meninggal karena bunuh diri.

Di Indonesia, 10.000 orang setiap tahun meninggal karena bunuh diri atau setiap satu jam satu orang meninggal bunuh diri dan menjadi penyebab utama kedua kematian pada kelompok remaja dan dewasa muda usia 15-29 tahun.

Psikolog Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Herlan Praktikto mengatakan, maraknya trend bunuh diri dan percobaan bunuh diri adalah akibat depresi yang berkepanjangan tanpa adanya jalan keluar dan perubahan dari lingkungan sekitar.

“Ada konflik nilai yang dialami oleh penyintas. Konflik yang tidak selesai inilah yang akhirnya menjurus pada usaha-usaha untuk melakukan bunuh diri,” ujarnya kepada Super Radio, Kamis (21/11/2019).

Herlan mengatakan, dirinya pernah menjadi pendamping  penyintas yang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Menurutnya, setiap hari perilaku depresi penyintas sangat terlihat, yakni menjadi agresif. Akibatnya anak-anak penyintas memiliki rasa ketakutan terhadap ibunya. Untungnya, anak-anaknya memiliki keinginan dekat dengan sang ibu, sehingga masih bisa menerima kondisi ibunya.

“Karena dia masih memperhitungkan anak-anaknya, akhirnya dia mengurungkan niat untuk mengakhiri hidup tersebut. Tapi karena masalah itu tidak selesai, maka depresinya menjadi berkepanjangan. Hampir satu tahun dia mengalami fase itu dan itu menyiksa,” imbuh pria yang juga menjadi memiliki keilmuan di bidang Psikologi Klinis ini.

Berbagai tekanan yang dialami penyintas dalam hidupnya, membuatnya harus mengkonsumsi obat. “Kalau tidak minum obat, takut kondisi emosinya semakin lama semakin buruk, sehingga bunuh diri bisa bener-benar dilakukan. Tapi hebatnya, dia tidak mau ketergantungan dengan obat,” ujarnya.

Herlan mengatakan, dengan obat ada sedikit perubahan pada penyintas, namun perilaku depresinya masih tinggi. Selama melakukan terapi dua bulan ini Herlan melibatkan ibunda penyintas, karena ibunya menjadi tokoh penting bagi penyintas untuk diikuti dan berhubungan dengan nilai-nilai luhur tersebut.

“Keterlibatan ibu saya katakan penting, agar penyintas ini jangan sampai mempertahankan nilai-nilai ini yang memang juga dipegang oleh ibunya. Terlebih saat nilai ini sangat diagungkan. Pada satu sisi penyintas mempertahankan ideal selfnya, tapi pada satu sisi dia merasakan itu sangat berat,” katanya.

Selain ibu, Herlan juga melibatkan sosok terdekat di sekitar penyintas untuk melakukan pemulihan psikologi penyintas. Lama proses pemulihan tersebut, kata Herlan, tergantung dari stressor yang ada disekitarnya, apakah ada perubahan atau tidak, karena dorongan dari luar dan orang-orang terdekat dapat memberikan dukungan psikologis untuk pemulihan penyintas.

Terapi rutin yang diberikan Herlan, perlahan mampu membuat penyintas semakin terbuka dan percaya diri dalam menghadapi persoalan yang dialaminya. Penyintas juga kembali ceria dan mampu bergurau dengan keluarga maupun teman-temannya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.