Bermain di Kampung Engkle

Yovie Wicaksono - 16 August 2019
Antusias anak-anak untuk Bermain Bersama di Kampung Engkle, di Jalan Sidotopo Wetan Baru VB, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Teriknya matahari, tak menyurutkan antusias anak-anak yang bermukim di Kampung Engkle, di Jalan Sidotopo Wetan Baru VB, Kecamatan Kenjeran, Surabaya, untuk bermain bersama.

Di jalanan kampung inilah, terdapat 8 jenis engkle dari berbagai negara, seperti Indonesia, Prancis dan Korea. Dari sanalah, nama Kampung Engkle muncul.

Engkle Indonesia ada engkle gunung, engkle pesawat, engkle kitiran, engkle saruk dan engkle rok, sedangkan 3 engkle lainnya dari Korea yang  bernama Biseokchigi, engkle dari Eropa bernama Rocket Hopscotch, serta engkle dari Paris, Prancis bernama Escargot, yang berbentuk siput.

Permainan ini dimainkan secara perorangan, minimal dua orang.

Diawali dengan hompimpa menggunakan telapak tangan, mereka menentukan siapa yang akan bermain lebih dulu. Berbekal gaco (pecahan genting/kreweng, keramik lantai, atau batu berbentuk datar) yang diletakkan di kotak pertama mereka memulai permainannya.

Dengan kaki telanjang, satu persatu dari mereka melompat dengan satu kaki ke kotak demi kotak yang berbentuk pesawat. Siapapun yang menginjak garis kotak, dan melemparkan gaco melebihi kotak dinyatakan kalah dan diganti oleh pemain berikutnya.

Asal Mula Kampung Engkle

Kampung Engkle berawal dari niatan Mustofa Sam (28) menggambar engkle didepan rumahnya seminggu lalu untuk memeriahkan 17 Agustus.

“Awalnya saya izin sama Pak RT untuk gambar engkle didepan rumah saya, tapi ternyata Pak RT malah minta saya untuk gambar engkle di sepanjang jalan kampung ini. Butuh waktu tiga hari, saya dan dua orang lainnya sambil dibantu warga untuk menyelesaikan ini,” ujar pria asli Kampung Engkle ini, kepada Super Radio, Jumat (16/8/2019).

Pria yang akrab disapa Cak Mus ini mengatakan, selain menyesuaikan tempat, 8 jenis engkle ini adalah untuk mengedukasi anak-anak mengenai wawasan internasional melalui permainan tradisional ini.

“Selain mengenalkan jenis engkle dari Indonesia, saya juga ingin mengedukasi anak-anak mengenai wawasan internasional, bahwa di Korea, Prancis, dan Eropa itu juga ada loh engkle, hanya saja namanya yang beda,” imbuhnya.

Setelah menggambar engkle, Cak Mus mengamati anak-anak di kampungnya dari lantai atas rumahnya. Ternyata, banyak anak-anak yang bermain engkle, meskipun beberapa dari mereka tidak memahami aturan dari permainan engkle itu sendiri.

“Saya lihat dari atas, ternyata banyak anak yang mencoba bermain, meskipun mereka tidak tau aturan permainannya. Asal loncat-loncat aja, tapi justru setelah itu, mereka membuat peraturan sendiri yang telah mereka sepakati saat bermain,” katanya.

Dalam berbagai kesempatan, Cak Mus maupun orang tua dari anak-anak kampung tersebut mengajarkan cara bermain engkle. Lambat laun mereka sudah mampu memahami aturan dan bermain sebagaimana mestinya.

Cak Mus menilai, ada kekeliruan jika banyak pihak yang menilai generasi sekarang lebih banyak memilih gadget daripada bermain bersama selayaknya anak jaman dahulu.

“Ini ada kekeliruan, bukan berarti mereka lebih memilih gadget, tapi sejak dini mereka tidak dikenalkan dengan permainan tradisional, tidak diberi fasilitas (lahan) untuk mereka bermain. Tapi yang dikenalkan malah gadget,” ujarnya.

Hal tersebut terbukti dengan anak-anak yang  terlihat antusias, bahagia, dan akrab satu dengan yang lain saat bermain engkle.

“Lebih senang main bersama seperti ini, daripada mainan di hp, karena bisa bertemu dengan teman secara langsung dan lebih seru,” ujar salah satu anak yang turut bermain engkle, Cintya Vega (11).

Meskipun sudah mengenal engkle, siswi kelas 5 Sekolah Dasar ini tetap antusias, terlebih dia tidak perlu menggambar lagi tiap kali ingin bermain engkle.

“Dulu tiap mau main engkle harus gambar pakai kapur dan gambarnya cepat hilang. Tapi sekarang tinggal main aja, karena sudah digambarkan dengan cat, pilihan engklenya juga banyak,” imbuhnya.

Baginya, bagian tersulit dari permainan ini adalah ketika dirinya harus mengambil gaco dalam kotak dengan posisi satu kaki. “Karena harus jaga keseimbangan, kalau engga imbang mesti jatuh dan kalah,” tandasnya.

Bukan hanya kesenangan, tapi melalui permainan tradisional engkle ini anak-anak bisa belajar berbagai hal. Mulai dari menjaga keseimbangan, melatih kekuatan dan ketahanan fisik, sosialisasi dengan sesama, nilai kejujuran, sportifitas, hingga menaati aturan.

“Untuk anak, bermain bukan hanya kesenangan, tapi sarana mereka belajar mengenali lingkungannya, menambah wawasan, membentuk karakter dan cara mereka bersosialisasi,” imbuh Cak Mus.

Terlebih dalam bermain, anak-anak dapat belajar mengenai toleransi dan keberagaman. “Saat bermain mereka tidak akan membedakan apa agama, suku, ras, dan bahasa temannya, yang mereka tau adalah bermain bersama tanpa membedakan sesamanya,” tandasnya.

Kedepan, Cak Mus berharap dapat mengadakan Festival Engkle, sebagai ajang edukasi permainan tradisional. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.