Begini Bentuk Kesetaraan Gender dalam Islam

Yovie Wicaksono - 8 March 2022
Ilustrasi. Foto : (Freepik)

SR, Surabaya – Pengurus PW Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, Yeni Lutfiana mengatakan, semua agama sejatinya mengajarkan kebaikan dan makhluk hidup adalah setara di mata Sang Pencipta. Sama halnya dengan laki-laki dan perempuan yang setara dalam Islam.

“Saya meyakini dan mempelajari, itu juga ada didalam ayat Al-Quran bahwa siapapun, baik laki-laki maupun perempuan dihadapan Allah itu sama, yang membedakan hanya ibadah dan ketaatannya kepada Allah,” ujarnya, Selasa (8/2/2022).

Ia menegaskan, kesetaraan gender adalah soal mendudukkan manusia sebagai manusia, maka laki-laki dan perempuan punya harkat dan martabat yang sama didalam pandangan Islam.

Yeni menambahkan, bentuk kesetaraan gender dalam Islam sebenarnya banyak sekali. Dimana banyak dijumpai praktik-praktik agama Islam yang sangat moderat, terbuka, dan egaliter dalam menghargai semua orang, baik laki-laki maupun perempuan yang sebenarnya telah dicontohkan dalam kehidupan para pendahulu.

“Termasuk bagaimana Nabi mempraktikkan dalam kehidupan sehari-harinya, bagaimana beliau menghargai perempuan, bagaimana Khadijah menempatkan sebagai ibunya orang Islam sedunia, itu yang menunjukkan bahwa unsur-unsur penghormatan itu sudah didudukkan dari awal,” sambungnya.

Kemudian, lanjut Yeni, ketika Khadijah menikah dengan Muhammad, Khadijah juga tetap bekerja. Dalam hal ini menunjukkan Islam tidak melarang perempuan bekerja serta membuka kesempatan bagi perempuan untuk meniti karir sebagaimana laki-laki juga diberi kebebasan untuk bekerja, mengembangkan seluas-luasnya keahlian dan kemampuan yang dimiliki. Hal ini menurutnya adalah satu ajaran yang mulia dan relevan dengan saat ini.

“Saya kira banyak lagi contoh bagaimana kemudian Nabi mendengarkan pendapat seorang perempuan untuk memutuskan suatu hal dan juga banyak tokoh-tokoh perempuan didalam Islam,” ujarnya.

Jika kemudian ada pandangan Islam sepertinya bersikap tidak adil pada perempuan, Yeni mengatakan, ini merupakan satu proses panjang perlu adanya wacana-wacana yang progresif.

Terkait Hadist “Seandainya aku akan memerintahkan seseorang sujud kepada seorang, niscaya aku perintahkan istri sujud kepada suaminya” (HR. AT-Tirmidzi) yang seringkali disalahpahami bahwa istri harus sepenuhnya patuh kepada suaminya dan tidak lagi memiliki hak menolak atau membantah, dalam buku Islam yang Disalahpahami karya Quraish Shihab menyebutkan bahwa maksud Rasulullah bukanlah seperti itu saat mengucapkannya.

Quraish Shihab menjelaskan dari sisi asbâb al-wurûd (konteks) hadits tersebut diriwayatkan bahwa sahabat Rasulullah, Mu’adz bin Jabal r.a. saat kembali dari Syam dan menghadap beliau, sang sahabat bersujud kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah bertanya, “Apa ini wahai Mu’adz?”.

Lalu Mu’adz menjawab, “Aku baru saja kembali dari Syam dan aku melihat mereka sujud kepada para rahib dan pendeta-pendetanya. Maka aku pun ingin melakukannya untukmu.” Di sinilah Rasulullah melarang untuk melakukan hal serupa sambil berkata, “Janganlah lakukan itu. Kalau seandainya aku memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan istri sujud kepada suaminya,” (HR Tirmidzi dan al-Hakim). Dari konteks tersebut terlihat alasan pengucapan Rasulullah yang melarang keinginan seorang sahabat beliau untuk sujud sebagai bentuk penghormatan.

Maka dari itu, untuk bisa memahami sebuah pesan tidak cukup dengan teks, tetapi penting untuk memahami konteksnya, Qur’an ada asbabun nuzulnya, sedangkan hadist ada asbabul wurudnya. Kedua, penting bagi pembaca untuk memahami kosa kota yang ada. Ketiga, melihat secara umum tuntunan Islam yang menyangkut tema-tema tertentu yang berpolemik, yang salah satunya terkait dengan persoalan gender.

“Hadist itu di maknai juga tergantung siapa yang memaknainya dan Hadist keluar sesuai ruang dan waktu. Untuk menfasirkan sesuatu, seseorang harus memiliki kapasitas yang luar biasa. Banyak sekali Hadist, produk-produk wacana ke-Islaman yang berkembang dan lebih mendudukan posisi perempuan dan laki-laki itu sama dan setara dan itu berarti kita banyak pilihan, mana referensi yang akan kita gunakan,” ujar Yeni.

Maka, lanjutnya, ketimbang berfokus pada Hadist yang dianggap memojokkan perempuan dan sibuk melakukan bantahan, tentu jauh lebih baik kalau mempelajari Hadist- Hadist yang lebih terbuka, mendukung kesetaraan gender, yang mendukung ke-“saling”an, saling menghargai dan mencintai sebagai manifestasi bahwa setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan itu adalah sama di hadapan Allah, sama mulianya.

Kemudian adanya adagium “swarga nunut, neraka katut” yang masih sangat lekat sebagai tameng untuk “menaklukkan” seorang istri, ia menilai bahwa adagium itu tidak relevan dan tidak benar, karena Islam tidak mengajarkan seperti itu.

Menurutnya, adagium itu berkembang dari apa yang terjadi di masyarakat selama ini dan karena kesetaraan gender itu produk budaya, jadi berkembang sesuai waktunya. “Tetapi adagium itu hari ini sudah tidak relevan lagi karena menurut saya kita sedang mendapati satu perkembangan yang sangat positif terkait dengan penghargaan hak-hak perempuan,” sambungnya.

Perkembangan positif itu salah satu contohnya adalah dalam ranah politik, dimana dulu sempat ada ajakan untuk tidak memilih pemimpin perempuan, namun saat ini, Jawa Timur memiliki Gubernur dan kepala daerah perempuan.

Meski sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, kata Yeni, tetapi masih banyak hal yang harus diperjuangkan bersama termasuk salah satunya wacana ketidak adilan gender yang berkembang di masyarakat yang itu menggunakan agama sebagai alat legitimasi. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.