Atlet SOIna Asah Kreativitas Melalui E-Drawing

Yovie Wicaksono - 19 January 2020
Salah satu atlet sedang menggambar secara digital seusai Pelantikan Kelulusan Unified E-Drawing Book Special Olympics Indonesia Pengda Jatim di Gedung BK3S Jatim, Surabaya, Minggu (19/1/2020). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Para atlet dari Special Olympics Indonesia (SOIna) Pengurus Daerah (Pengda) Jawa Timur (Jatim) terlihat serius menggambar secara digital (E-Drawing) melalui software Paint milik Microsoft dengan menggunakan drawing pad.

Bahkan, hasil kreativitas menggambar mereka telah di produksi menjadi sebuah tote bag maupun kaos.

President Youth Club SOIna Jatim, Firda Mustikasari mengatakan, sebanyak 25 atlet dengan Intelectual Disability (ID) ini telah mendapatkan pelatihan selama tiga bulan terakhir untuk belajar terkait Information Technology (IT), khususnya menggambar secara digital.

“Ini merupakan program kerjasama kami dengan Microsoft Asia Pasific dan kami bikin konsep E-Drawing karena itu paling mudah di pelajari oleh teman-teman ID untuk mengasah kreativitas mereka sekaligus melatih kemandirian, kepercayaan diri dan sebagai bekal agar mereka bisa mengembangkan ekonomi kreatif,” ujarnya usai Pelantikan Kelulusan Unified E-Drawing Book Special Olympics Indonesia Pengda Jatim di Gedung BK3S Jatim, Surabaya, Minggu (19/1/2020).

Selama pelatihan tersebut, para atlet ini didampingi 15 instruktur dengan fasilitas laptop dan drawing pad yang telah disediakan. Mereka berlatih dua kali dalam satu bulan, mulai dari pengenalan perangkat yang digunakan hingga menggunakan tools sederhana untuk menggambar.

“Kita mulai dari hal yang sederhana, mulai dari pengenalan dan penggunaan perangkat, apa saja yang perlu dilakukan sebelum mendesain, lalu memperkenalkan tools sederhana seperti lingkaran, kotak hingga membuat mata, wajah, kamera dan sebagainya yang kemudian hasil desain itu kita produksi menjadi kaos dan tote bag yang bernilai ekonomis,” ujar Project Leader E-Drawing Book, Miftahul Arif.

Orang tua Aswin Nugroho, salah satu atlet yang mengikuti pelatihan tersebut mengaku senang. Setidaknya anaknya bisa mendapatkan suatu hal yang baru dan terlihat sangat menikmati dalam setiap sesi pelatihan.

“Sebagai orang tua saya turut senang dengan adanya pelatihan ini. Mau tidak mau kita sebagai orang tua harus mendukung anak kita dengan memberikan suatu kepandaian atau kemampuan tertentu yang sesuai kesenangan mereka, supaya kelak mereka bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” ujar Herawati, ibunda Aswin.

“Kita harus tetap berusaha, anak kita memang terbatas kemampuannya, tapi dalam keterbatasan itu pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan. Dan dengan itu mereka akan merasa bangga dengan dirinya, tidak minder,” imbuhnya.

Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Jawa Timur, Pinky Saptandari turut mendukung digelarnya kegiatan tersebut.

“Kami berharap, orang tua anak juga lebih terbuka, anak-anak juga memiliki keterampilan yang bermanfaat, tidak saja memiliki nilai ekonomi tapi juga psikologis mereka menjadi lebih merasa bangga, bisa berkarya, mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.