Arena Kuasa, Hegemoni dan Resistensi dalam Joko Anwar’s NightMares dan Daydreams
Oleh : Bagus Angga Saputro (Mahasiswa Semester 6, FISIP Universitas 17 Agustus Surabaya)
SR, Surabaya – Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams adalah serial film antologi sci-fi supernatural horor terdiri dari tujuh episode dirilis pertama kali di Netflix pertengahan Juni 2024 .
Disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar serta kolaboratornya termasuk Tommy Dewo, Randolph Zaini, dan Ray Pakpahan seri ini mengambil latar di Jakarta dari tahun 1985 hingga masa kini, mengeksplorasi lapisan sosial, kesenjangan, dan isu politik Indonesia melalui kisah “orang biasa yang menghadapi fenomena supranatural”.
Setiap episode membawa karakter utama dari latar belakang berbeda seperti sopir taksi yang merawat ibunya, pasangan miskin yang mengadopsi anak yatim berkekuatan misterius, atau penulis wanita yang kehidupannya mulai meniru cerita novel yang ditulisnya. Namun kisah ini tak berdiri sendiri, ada benang merah berupa aliran ritual, organisasi misterius, hingga ambisi yang meliputi juga babak akhir yang menyatukan semua jalan cerita .
Serial ini menyoroti relasi kuasa yang kompleks antara individu dan struktur dominan, di mana tokoh-tokoh “orang biasa” yang berhadapan dengan kekuatan supranatural yang secara metaforis merepresentasikan sistem hegemonik: negara, kapitalisme, atau agama sebagai alat kontrol.
Hegemoni tersebut tak selalu tampil secara eksplisit, namun hadir melalui ritual tersembunyi, organisasi rahasia, dan realitas yang terdistorsi, menunjukkan bagaimana ideologi bekerja secara halus dan tidak kasat mata.
Serial ini juga memberi ruang bagi resistensi: para tokoh mengalami proses kesadaran diri, pemberontakan batin, atau bahkan pembalikan struktur kuasa meskipun tak selalu berhasil total.
Emansipatoris dan Perubahan Sosial
Secara diskursif, serial ini mereproduksi dan sekaligus mengganggu narasi-narasi dominan dalam media arus utama. Dengan memadukan elemen sci-fi dan horor lokal, Joko Anwar memproduksi makna yang ambivalen yakni di satu sisi memperkuat narasi ketakutan terhadap yang “asing” atau “mistis”, tapi di sisi lain mengkritik struktur sosial yang tak terlihat namun menindas. Serial ini menjadi arena kontestasi makna antara kekuasaan yang menormalisasi ketertindasan, dan suara-suara marginal yang berusaha mengartikulasikan realitas dari perspektif sendiri.
Representasi gender dalam serial ini yang memperlihatkan perempuan tidak sekadar sebagai korban, tapi juga sebagai agen seperti dalam kisah penulis wanita yang hidupnya mulai meniru fiksinya. Sementara dari perspektif kelas, serial menggambarkan jurang sosial antara elite yang terhubung dengan kekuatan misterius, dan rakyat kecil yang terjebak dalam penderitaan struktural.
Representasi ini menggarisbawahi bagaimana kelas, gender, dan bahkan politik identitas dikonstruksi dalam relasi kuasa yang timpang, namun juga bisa diintervensi lewat narasi alternatif.
Nightmares and Daydreams memuat aspek emansipatoris dan potensi perubahan sosial, meski dalam bentuk simbolik. Melalui pengalaman transformatif para tokoh, serial ini membuka ruang bagi penonton untuk mempertanyakan realitas sosial dan ideologi yang mengikat. Serial ini bukan hanya hiburan, tetapi ajakan untuk membongkar lapisan-lapisan kekuasaan yang menyelinap dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus merayakan potensi resistensi dan reimajinasi masa depan.
Teori hegemoni menurut Antonio Gramsci (1971) adalah bentuk kekuasaan yang tidak hanya bertumpu pada dominasi atau paksaan fisik, tetapi lebih pada pencapaian konsensus melalui persetujuan aktif dari kelompok yang dikuasai terhadap nilai-nilai, norma, dan ideologi yang dikembangkan oleh kelompok dominan, seperti dalam bukunya Kerebungu: Sosiologi Modern : Teori Struktural Fungsional sampai Teori Hegemoni. Pada kerangka ini, kekuasaan bekerja secara halus dan kultural. Kelas Penguasa tidak hanya mengontrol alat produksi ekonomi, tetapi juga menguasai institusi-institusi ideologis seperti pendidikan, media, agama, dan keluarga untuk menanamkan cara berpikir tertentu yang dianggap “alami” dan tidak dapat dipertanyakan.
Asumsi Kerebungu ini didukung oleh pemikiran Pratama & Naryoso dalam karyanya Perilaku Imitasi Budaya Jepang Remaja Aktif Penonton Anime One Piece, bahwa hegemoni memungkinkan struktur kekuasaan bertahan tanpa perlu kekerasan langsung karena mayoritas masyarakat secara sukarela menerima kondisi yang sebenarnya menindas .
Selain itu, munculnya kesadaran dan perlawanan simbolik dari beberapa karakter menjadi bukti adanya ruang bagi resistensi, seperti yang digambarkan Gramsci dalam konsep counter-hegemony. Oleh karena itu, serial ini tidak hanya mengilustrasikan cara kerja hegemoni dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memperlihatkan potensi gangguan terhadap stabilitas ideologis yang mapan.
Teori dan Praktik Hegemoni
Serial Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams (2024) dapat dikaji secara mendalam melalui teori hegemoni Antonio Gramsci (1971) yang melihat kekuasaan tidak hanya bergantung pada dominasi atau kekerasan fisik, tetapi lebih pada pencapaian konsensus melalui persetujuan aktif dari kelompok yang dikuasai terhadap ideologi kelompok dominan, seperti dikutip dari Paradoks Keluarga Sakinah : Relasi Kuasa Dan Wacana, karya Khoiriyah dkk dalam At Thariq : Jurnal Studi Islam Dan Budaya
Pada serial ini, kekuasaan hegemonik diwujudkan melalui kekuatan supranatural dan institusi-institusi tersembunyi yang mengontrol realitas sosial tokoh-tokohnya, mencerminkan kekuasaan bekerja secara halus dan kultural. Tokoh-tokoh seperti sopir taksi, penulis perempuan, atau pasangan miskin digambarkan menerima dan menjalani sistem yang tidak adil seolah-olah itu adalah kondisi yang wajarmenunjukkan bagaimana ideologi dominan telah tertanam dalam kesadaran.
Kekuatan ini tidak hanya mencerminkan dominasi ekonomi, tetapi juga infiltrasi ideologis melalui media, keluarga, dan keyakinan misti institusi-institusi yang dalam kerangka Gramsci menjadi alat untuk menanamkan cara berpikir tertentu yang sulit dipertanyakan. Namun, serial ini tidak berhenti pada penggambaran ketundukan yang juga menunjukkan titik-titik resistensi, di mana karakter mulai menyadari realitas yang dibentuk oleh kekuasaan tersebut dan mencoba menolaknya.
Praktik budaya adalah segala bentuk aktivitas simbolik yang dilakukan individu atau kelompok dalam kehidupan sehari-hari seperti film, musik, gaya hidup, hingga wacana media yang tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga memainkan peran dalam membentuk, mempertahankan, atau menantang struktur kekuasaan dan ideologi yang berlaku.
Praktik budaya dalam serial ini merefleksikan individu-individu dari kelas bawah terjebak dalam sistem sosial yang dikendalikan oleh kekuatan tak terlihat, mencerminkan dominasi ideologis yang dilembagakan melalui ritual, keyakinan, dan narasi yang menormalisasi ketidakadilan. Namun, serial ini juga memperlihatkan momen-momen resistensi di mana para karakter mulai menyadari struktur hegemonik yang mengungkung dan mencoba melakukan perlawanan, meski bersifat simbolik atau tragis. Pada serial ini tidak hanya merepresentasikan kekuasaan, tetapi juga menjadi ruang kritis yang menantang dominasi ideologis dan membuka kemungkinan kesadaran serta perubahan sosial.
Refleksi kritis dari serial Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams menunjukkan bahwa praktik budaya seperti film dan serial tidak hanya sekadar hiburan, melainkan ruang ideologis tempat kekuasaan dinegosiasikan dan dipertarungkan. Serial ini mengungkap kekuatan hegemonik dapat menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari melalui simbol, mitos, dan narasi yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat. Namun, dengan memperlihatkan fragmen-fragmen resistensi dari karakter-karakternya, serial ini juga membuka ruang bagi kesadaran kritis dan kemungkinan perubahan sosial. Pada tindakan praksis yang dapat dirumuskan adalah pentingnya mendorong literasi media kritis di masyarakat sebuah kemampuan untuk membaca dan menginterpretasikan media secara reflektif, memahami struktur ideologi di balik representasi visual, serta mengembangkan kesadaran terhadap posisi sosial-politik individu dalam sistem yang hegemonik. Selain itu, pemikiran emansipatoris dari teori cultural resistance ala Stuart Hall dapat dijadikan kerangka alternatif untuk memperkuat analisis dan perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak kasat mata. (*/red)
Tags: joko anwar, netflix, nightmare
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.


