Ancaman dan Risiko Digital terhadap Jurnalis pada Masa Pandemi Corona

Yovie Wicaksono - 3 May 2020
Ilustrasi. Foto : (mediaedutama.co.id)

SR, Jakarta – Mewabahnya virus corona (Covid-19) tentu berdampak pada kerja-kerja jurnalistik yang awalnya dilakukan dengan cara turun ke lapangan dan bertemu langsung dengan narasumber, kini harus beralih secara daring atau online guna menjaga jarak untuk mencegah penyebaran virus corona.

Divisi Digital At Risk SAFEnet, Nenden Sekar Arum mengatakan, peningkatan aktivitas online ini berbanding lurus dengan meningkatnya risiko dan ancaman keamanan digital yang dialami oleh para jurnalis, di antarannya serangan phishing dan pengawasan, akun pengguna yang dikompromikan, serta doxing dan persekusi online.

“Jurnalis dan media dapat menjadi target pengawasan (surveillance) melalui phishing yang seringkali menggunakan tautan atau lampiran melalui email atau media sosial yang disisipi malware sehingga memungkinkan penyerang untuk mengumpulkan apapun yang diinginkan pada komputer yang telah terjangkit,” ujar Nenden dalam diskusi online bertajuk “Korona dan Ancaman Kekerasan terhadap Jurnalis”, Minggu (3/5/2020).

Kemudian risiko dan ancaman lain yang dapat dialami jurnalis adalah intimidasi dan ancaman online, disinformasi dan misinformasi (infodemi), penyimpanan dan penambangan data, pelanggaran kebebasan berekspresi online, hingga pelecehan seksual secara online.

“Jika biasanya intimidasi dan ancaman diterima jurnalis secara langsung, sekarang bentuknya bergeser secara online yang bisa dikirimkan melalui e-mail (blackmail), private messages, atau bahkan disampaikan secara publik di media sosial yang biasanya menggunakan akun anonym,” ujarnya.

Nenden menambahkan, terkait pelanggaran kebebasan berekspresi online seperti pasal karet UU ITE (Pasal 27 ayat 3 tentang pencemaran nama baik dan Pasal 28 ayat 2 tentang penyebaran kebencian) masih menjadi ancaman serius terhadap pelanggaran kebebasan berekspresi bagi jurnalis dan media.

“Terlebih, belakangan ditambah oleh terbitnya Surat Telegram (ST) Kapolri tentang penangan Covid-19 yang dinilai berpotensi membuka ruang penyalahgunaan kekuasaan kepolisian dan penegak hukum untuk bersikap represif,” katanya.

Nenden mengatakan, adapun tantangan para jurnalis ketika harus melakukan kerja jurnalistik secara online diantaranya adalah peralatan digital security yang tidak selalu mudah digunakan, sehingga membuat jurnalis enggan menggunakannya secara baik dan benar.

Aplikasi digital security yang tersedia harganya mungkin terlalu tinggi untuk para jurnalis lepas, dan banyak yang gratisan tetapi tidak ramah untuk pengguna. Kemudian banyak jurnalis dan narasumber yang tidak memahami anonimitas data dan penggunaan keamanan teknologi seperti enkripsi.

Untuk itu, Nenden memberikan beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan para jurnalis untuk mengamankan ‘ruang kerja’ nya seperti memperbarui perangkat ke sistem operasi terbaru, memperbarui aplikasi dan browser ke versi terbaru, dan memikirkan alternatif penyimpanan dokumen, terutama untuk isu-isu sensitif.

“Backup data secara teratur untuk menghindari hilang atau rusaknya hasil pekerjaan, kunci semua perangkat dengan PIN atau kata sandi untuk mencegah orang lain mengaksesnya, serta hindari berbagi perangkat kerja dengan orang lain,” ujarnya.

Nenden juga mengingatkan akan pentingnya meningkatkan keamanan akun para jurnalis, dengan cara tinjau pengaturan privasi dan pahami informasi apa yang bersifat publik, menghapus semua akun yang tidak digunakan, dan jangan lupa membuat salinan dari semua informasi yang ingin disimpan.

“Buat kata sandi yang panjang dan unik untuk setiap akun, nyalakan otentifikasi dua faktor, dan tinjau secara teratur bagian ‘aktivitas akun’ dari masing-masing akun untuk melihat perangkat yang tidak dikenal mengakses akun,” tandasnya.

Selain itu, menggunakan saluran komunikasi yang aman, memperbaiki kebiasaan di dunia digital, serta melakukan riset Covid-19 dengan aman, penting dilakukan para jurnalis agar terhindar dari risiko dan ancaman keamanan digital. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.