Anak Muda Maluku di Surabaya Peringati 208 Tahun Pahlawan Pattimura

Rudy Hartono - 17 May 2025
Aktivis Komunitas Pemuda Pelajar Maluku (KPPM) Surabaya John Pelletimu dan Rosa usai bincang di program Super Talk Show! Di Super Radio 88.5 FM bareng Nia Kurnia. Jumat (16/05/2025). (foto: diva/superradio.id)

SR, Surabaya – Semangat kepahlawanan tak pernah lekang oleh waktu. Tepat 208 tahun sejak perjuangan Kapitan Pattimura melawan penjajahan di tanah Maluku.

Generasi muda Maluku yang berada di Surabaya bersatu untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali nilai- nilai perjuangan lewat acara peringatan yang digelar pada Minggu (18/5/2025) pukul 16.00 WIB di Gedung BK3S, Jalan Raya Tenggilis, Surabaya.

Mengusung tema “Menghidupkan Semangat Pattimura dalam Jiwa Generasi Muda Maluku” acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Pemuda Pelajar Maluku (KPPM) Surabaya sebagai bentuk refleksi dan kebangkitan jiwa kepemudaan dalam semangat persatuan dan perjuangan.

Acara ini tidak hanya menjadi momentum refleksi, tetapi juga menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan menarik seperti pertunjukan budaya, tradisi lari obor, flashmob, hingga penampilan dari dua musisi asal Maluku, Chaken Supusepa dan Jimmy Titarsole.

Tak hanya itu, acara ini juga akan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, yang rencananya akan bergabung bersama Gubernur Jawa Timur dalam acara tersebut.

Lebih dari Sekadar Peringatan Acara ini menjadi wadah berkumpulnya generasi muda Maluku di perantauan untuk memperkuat rasa kebersamaan dan semangat perjuangan. Dengan balutan seni, budaya, dan refleksi sejarah, peringatan ini dirancang agar nilai-nilai kepahlawanan terus hidup di masa kini.

Dua sosok yang hadir sebagai panitia adalah John Pelletimu (akrab disapa Papi John) dan Rosa (Mami Oca). Dalam wawancaranya, keduanya menekankan pentingnya memperingati Hari Pattimura bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa perjuangan belum berakhir, hanya bentuknya yang berubah.

“Semangat Pattimura itu bukan soal angkat senjata lagi, tapi bagaimana kita sebagai anak muda bisa hadir, aktif, dan tetap punya rasa memiliki terhadap identitas dan tanah asal,” ujar Papi John.

Sementara itu, Mami Oca menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang belajar antargenerasi. “Anak-anak Maluku yang merantau di Surabaya juga perlu menyalakan semangatnya agar tetap merasa punya akar, rumah, dan tahu dari mana mereka berasal,” ucapnya penuh semangat.

Keduanya juga berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut setiap tahun, dan tidak hanya dilakukan di Surabaya, tetapi juga menginspirasi kota-kota lain tempat komunitas Maluku berada.

Siapa Kapiten Pattimura?

Thomas Matulessy atau yang dikenal sebagai Kapiten Pattimura, adalah pahlawan nasional yang memimpin perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda pada tahun 1817. Dalam usia muda, ia berhasil memimpin pasukan rakyat untuk merebut Benteng Duurstede, simbol kekuasaan kolonial di Saparua.

Meski akhirnya ditangkap dan dihukum gantung oleh Belanda, kata-kata terakhirnya tetap hidup hingga kini: “Pattimura tua boleh mati, tapi Pattimura-Pattimura muda akan muncul.”

Kutipan inilah yang menjadi ruh utama dalam acara peringatan ini. Bahwa semangat juang, keberanian, dan kecintaan terhadap bangsa bisa terus diwariskan, terutama lewat karya dan solidaritas antar pemuda. (dv/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.