Ziarah Emosional Dubes Australia Meneladani Spirit Gus Dur
SR, Surabaya – Momen emosional menyelimuti kunjungan kerja Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, saat ia melangkah masuk ke kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Di hadapan pusara Presiden ke-4 Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Brazier tidak sekadar melakukan protokoler diplomatik, melainkan sebuah penghormatan mendalam bagi sosok yang ia anggap sebagai pilar kedaulatan pemikiran dan pluralisme di Indonesia.
Didampingi oleh putri mendiang Gus Dur, Yenny Wahid, sang duta besar tampak terhanyut dalam kenangan akan warisan besar sang kiai yang telah lama menjadi jembatan penghubung antara nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia dan Australia.
“Saya merasa terharu sekali bisa berziarah ke makam beliau (Gus Dur –Red). Saya pertama kali bertemu dengan Gus Dur pada tahun 1992 sebagai mahasiswa mengadakan riset di Jakarta dan beliau sangat murah hati bertemu dengan saya walaupun saya masih muda,” kenang Brazier saat wawancara dengan Super Radio di Pakuwon Tower Surabaya, Rabu (19/8/2026).
Bagi Brazier, sosok Gus Dur bukan sekadar tokoh sejarah dalam buku teks, melainkan bagian dari perjalanan personalnya memahami Indonesia secara utuh. Gus Dur dengan ketokohannya dengan rendah hati bersedia membuka pintu dialog dengan seorang mahasiswa asing. Hubungan historis yang personal ini menjadi cerminan betapa kuatnya kedaulatan sebuah bangsa yang dibangun di atas fondasi kepercayaan dan keterbukaan budaya.
Dubes Brazier menegaskan bahwa pemerintah Australia sangat menghormati warisan pluralisme Gus Dur yang mendukung kerukunan antarumat beragama. Dalam perspektif kedaulatan, semangat Gus Dur ini dipandang sebagai energi yang menyatukan perbedaan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis Australia yang memiliki prinsip moral yang kokoh.
Lebih dari sekadar penghormatan masa lalu, ziarah ini merupakan simbolisasi dari kerja sama strategis yang terus berlanjut antara Australia dan elemen-elemen besar bangsa Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama (NU).
Bermodalkan spirit yang diwariskan Gus Dur inilah yang kemudian membuahkan berbagai kemitraan Indonesia dan Australia di bidang pendidikan, pemerintahan, dan budaya bersama organisasi massa Islam di Indonesia.
Kerjasama Jangka Panjang dengan NU
Di tengah dinamika global yang berubah cepat, Dubes Brazier meyakini bahwa kekuatan hubungan bilateral ini terletak pada kemampuan pemimpin masa depan untuk mengadopsi karakter kepemimpinan Gus Dur yang adaptif namun tetap berpegang teguh pada jati diri.
“Legasi beliau sangat penting baik untuk hubungan Australia-Indonesia maupun untuk pluralisme di Indonesia,” tegas Brazier, merujuk pada betapa relevannya pemikiran Gus Dur dalam merajut perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.
Kehadiran Yenny Wahid dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dalam rangkaian ziarah tersebut semakin memperkuat narasi bahwa diplomasi Australia di Jawa Timur tidak hanya berjalan di koridor resmi pemerintahan, tetapi juga merambah ke relasi kekeluargaan yang autentik.
Dubes Brazier secara terbuka menyampaikan rasa bangganya atas kerja sama jangka panjang yang telah terjalin dengan NU di berbagai sektor. Diskusi mengenai upaya mempromosikan toleransi dan memberdayakan generasi muda menjadi inti dari dialognya dengan para tokoh di Jombang, yang ia gambarkan sebagai pengalaman yang sangat menginspirasi bagi masa depan kerja sama bilateral.
Dengan meletakkan rasa saling percaya sebagai fondasi utama, Australia berkomitmen untuk terus berinvestasi pada masa depan Indonesia melalui pendidikan dan pertukaran pengetahuan, seperti yang tercermin pada kehadiran Western Sydney University (WSU) di Jawa Timur.
Sebagai penutup rangkaian kunjungannya, Rod Brazier mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk memandang hubungan Australia-Indonesia melalui kacamata empati dan pemahaman yang mendalam. Ia berharap semangat Gus Dur dalam menjembatani perbedaan dapat terus hidup di setiap ruang kelas dan forum kerja sama antarkedua negara. (js/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





