Vitamin D Atasi Penyakit Diabetes Mellitus

Yovie Wicaksono - 2 August 2019
Dewi Ratna Sari dan tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Foto : (Humas UNAIR)

SR, Surabaya – Dalam beberapa tahun terakhir, Diabetes Mellitus (DM) menjadi salah satu penyakit penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Oleh karena tingginya angka kejadian DM tersebut, Dewi Ratna Sari dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, melakukan penelitian untuk menemukan suatu terapi tambahan guna memodifikasi risiko DM. Lebih spesifik, penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan tim berfokus pada efek konsumsi vitamin D terhadap ekspresi protein pengangkut gula darah (GLUT4) terhadap jaringan lemak tikus diabetes. GLUT4 berfungsi untuk membantu penyerapan gula darah kedalam sel lemak.

“Sebelumnya sudah banyak penelitian yang dilakukan tentang pengaruh vitamin D terhadap DM. Namun sedikit yang berfokus pada GLUT4 dan jaringan lemak,” ucap Dewi.

Untuk menyelesaikan penelitian tersebut, Dewi dibantu oleh ketiga rekannya, yaitu Tri Hartini Yuliawati (Yuli), Rimbun dan Joni Susanto. Didampingi oleh Prof. H. Ari Gunawan dan Almarhum Prof. Dr. Harjanto.

Dewi menjelaskan, terdapat dua puluh delapan tikus yang digunakan. Setelah diadaptasikan selama tujuh hari, tikus tersebut kemudian diberi makanan tinggi lemak selama empat belas hari baru kemudian diinduksi dengan streptozotocin (obat perusak sel pankreas) agar mengalami diabetes. Tujuh hari setelah proses induksi tersebut, hanya sembilan belas tikus yang berhasil mengalami diabetes.

Dari sembilan belas tikus tersebut, kemudian dipisahkan menjadi empat kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok perlakuan berdasarkan dosis vitamin D yang diberikan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan, semakin tinggi kadar vitamin D, maka akan semakin tinggi pula ekspresi GLUT4.

“Dengan tingginya ekspresi GLUT4, maka akan semakin banyak gula darah yang dapat diambil oleh jaringan lemak. Harapannya, kadar gula darah dapat kembali normal,” terang Rimbun, menambahkan penjelasan.

Meskipun begitu, Yuli menjelaskan, vitamin D hanya dapat dikonsumsi oleh penderita DM yang tidak memiliki komplikasi. Mengingat vitamin D merupakan vitamin larut lemak, maka kondisi hati dan ginjal pasien DM harus dalam kondisi sehat. Dosis konsumsi vitamin D juga tidak boleh melebihi batas normal.

“Konsumsi vitamin D dengan dosis yang diperkenankan oleh FDA (Food and Drug Administration USA, red),  BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan, red) atau sesuai dengan resep dokter,” imbuh Yuli.

Kedepannya, Dewi dan tim berencana untuk melakukan penelitian serupa namun menggunakan jaringan yang lain, yang berhubungan dengan diabetes. Selain itu, juga melihat efek samping dari pemberian vitamin D terhadap tubuh pasien diabetes. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.