Usia 134 Tahun, Mbah Katimin Tetap Merawat Hutan

Yovie Wicaksono - 22 September 2020
Mbah Katimin. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Hari beranjak senja, perlahan terdengar sayup-sayup langkah kaki dari atas kawasan hutan Lebak Tumpang, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Terlihat sosok pria tua turun dari atas. Warga setempat mengenalnya Mbah Katimin. Usianya diyakini 134 tahun, namun masih kuat menyusuri jalan perbukitan lereng kaki Gunung Klotok.

Mbah Katimin sudah puluhan tahun tinggal di gubuk yang ada dikawasan hutan lereng kaki Gunung Klotok seorang diri. Di gubuk tidak ada listrik. Malam hari, Mbah Katimin hanya mengandalkan sebuah lampu tempel berbahan minyak tanah.

Lokasi hutan dimana Mbah Katimin tinggal, sering dilewati para pendaki yang akan berkemah di lokasi camping Batu Bengkah. Dibutuhkan kurun waktu kurang lebih 45 menit berjalan kaki dari bawah untuk menuju lokasi tersebut.

Mbah Katimin bukan asli warga Lebak Tumpang, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto. Sebelumnya bapak tujuh anak ini tinggal di wilayah Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, bersama keluarganya yang lain. Saat rezim Soeharto mulai berkuasa, Mbah Katimin kemudian memutuskan untuk tinggal menetap dihutan belantara.

“Saya lupa pastinya kapan mulai masuk hutan. Yang saya ingat saya masuk hutan sejak Pak Harto mulai berkuasa,” ujar Mbah Katimin dalam dialek bahasa Jawa.

Selama tinggal didalam hutan, ia selalu merawat pepohonan yang ada disana. Jika menemukan lahan kosong, ia akan menanaminya dengan pepohonan sejenis Jati, Mahoni, serta pohon buah-buahan seperti pisang.

Selama menanam pohon pisang dan ketela di hutan, sering kali ia menjumpai para pendaki yang mengambilnya tanpa izin. Tetapi Mbah Katimin tidak mempersoalkan hal itu, asalkan untuk dikonsumsi.

“Saya tinggal disini untuk membangun hutan, sebelumnya kondisi hutan tidak seperti sekarang ini,” katanya.

Ia tidak memungkiri sebagai manusia biasa yang masih memiliki keluarga terkadang merasa rindu bertemu anak cucunya. Kala perasaan itu muncul, ia kemudian memutuskan untuk pulang mampir ke rumah sejenak lalu kembali lagi ke dalam hutan.

Mbah Katimin memiliki istri bernama Panirah, namun sejak 2 tahun lalu Panirah meninggal dunia. Ketika di tanya tentang berapa usianya saat ini, Mbah Katimin hanya mengingat jika ia berusia 52 tahun ketika Jepang masuk ke Indonesia.

“Yang saya ingat, ketika penjajah Jepang masuk ke Indonesia, usia saya sudah 52 tahun,” ujarnya.

Kini, ia mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama dan membangun hutan. Diusia yang lebih dari 1 abad, ia merasa sangat bersyukur diberikan umur panjang. “Resep umur panjang itu, perkataan harus jujur dan perbuatan harus selalu baik,” ujarnya.

 

Diyakini Sakti

Meski raganya sudah renta, Mbah Katimin rutin setiap hari turun naik perbukitan. Seolah menyatu dengan alam, ketika menyusuri rute perbukitan Mbah Katimin tidak memakai alas kaki sama sekali.

“Jika diatas hujan, dia berani turun ke bawah, meski pun pada malam hari tanpa lampu penerangan. Lebih berani lagi, dia turun tanpa alas kaki, padahal jika hujan jalanya licin dan berbatu,” ujar salah satu warga pemilik warung di kawasan tersebut, Mbah Supiran.

Mbah Supiran mengatakan, jika gubuk yang dijadikan tempat tinggal oleh Mbah Katimin selama ini dibuat oleh warga. Selama tinggal didalam kawasan hutan Mbah Katimin pernah bercerita jika sering dijumpai benda pusaka atau makhluk astral yang menampakan diri.

“Kalau nggak sakti, usia segitu mana bisa turun naik ke atas sana. Selama tinggal didalam kawasan hutan, Mbah Katimin sering dijumpai makhluk astral dan didatangi pusaka berbentuk Nogo Sosro,” kata kakek berusia 78 tahun ini.

Mbah Supiran menilai, Mbah Katimin memiliki kemampuan supranatural yang mumpuni. Terkadang banyak orang dari luar kota yang datang untuk mencari keberadaan Mbah Katimin.

“Selain dari lokal Kediri, mereka yang datang mencari Mbah Katimin juga berasal dari luar daerah seperti Jombang, Blitar dan daerah lainnya. Keperluannya bermacam-macam, ada yang minta didoakan supaya cepat dapat jodoh, kenaikan pangkat dan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Mbah Katimin juga dikenal mempunyai kemampuan memijat orang sakit. Banyak orang yang datang menemuinya mengeluh sakit, setelah dipijat ternyata sembuh.

“Ada yang sakit lumpuh lama, stroke, dipijat Mbah Katimin datang 2 kali sembuh. Ada yang juga yang mengeluh rematik dan lainnya,” katanya.

Selama mengobati orang sakit, Mbah Katimin tidak pernah mematok harga. Semuanya dilakukan karena rasa tulus ikhlas membantu sesama. Sifat belas kasihnya itu, membuat Mbah Katimin disukai banyak orang lingkungan sekitar. Bahkan jika ada warga yang membutuhkan uang, Mbah Katimin tidak segan membantunya.

“Terkadang uang pemberian dari tamunya tersebut dipinjamkan salah satu pedagang yang ada disini, dia juga gak pernah nagih,” kata Mbah Supiran. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.