UNESA Deklarasi Kampus Anti Kekerasan Seksual

Yovie Wicaksono - 26 April 2019
Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UNESA Deklarasikan Kampus Anti Kekerasan Seksual, di Aula Rektorat UNESA, Jumat (26/4/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Dilandasi maraknya kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melakukan kampanye dan deklarasi anti kekerasan seksual, di Aula Rektorat UNESA, Jumat (26/4/2019).

“Deklarasi dari Pusat Studi Gender dan Anak UNESA ini dilatarbelakangi oleh beberapa kasus yang terjadi di perguruan tinggi di Indonesia. Kami bersama-sama menolak dan mencegah agar tindakan tersebut tidak terjadi di kampus kami,” kata Ketua PSGA Muttimatul Faidah.

Deklarasi dilakukan oleh seluruh elemen kampus, mulai dari perwakilan rektorat, LPPM, dosen, karyawan, hingga unsur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).  Digelar juga penggalangan tanda tangan dukungan kampanye anti kekerasan seksual dan rekrutmen relawan Sahabat Setara.

“Ini sebagai tindakan prefentif agar tindakan kekerasan seksual tidak terjadi di kampus. Kami juga menghadirkan Sahabat Setara yang akan mengedukasi  kawan-kawan mereka akan potensi kekerasan seksual,” ujarnya.

Saat ini Sahabat Setara terdiri dari 22 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas, perwakilan BEM, serta dari Bimbingan Teman Sebaya (BIMBASI).

Selain menghadirkan Sahabat Setara, PSGA juga melakukan beberapa upaya preventif tindak kekerasan seksual seperti pelatihan kesetaraan gender.

“Kami juga melakukan konseling sehingga tadi kita juga launching hotline center sebagai media komunikasi kami dengan mahasiswa ketika ada permasalahan di lapangan, melakukan pendampingan, sekaligus kami akan melakukan advokasi,” terang Muttimatul.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan BEM Titania mengapresiasi inisiatif kampus membuat gerakan anti kekerasan seksual.

“Harapan saya, apa yang terjadi di kampus-kampus lain dimana korban pelecehan seksual tidak didukung dan cenderung dirugikan tidak akan pernah saya dengar di Unesa. BEM juga akan serius mengawal  bila ada laporan tindak kekerasan seksual di kampus,” ujar mahasiswi semester 6 Fakultas Ekonomi ini.

Sementara itu, salah satu Sahabat Setara Adinda Alfiranda Zahroh mengatakan, banyaknya kekerasan seksual yang terjadi menggerakkan dirinya untuk menjadi fasilitator dalam Sahabat Setara.

“Karena banyaknya kekerasan seksual yang terjadi, saya ingin menjadi fasilitator untuk teman-teman sehingga dapat mengurangi angka kekerasan seksual di universitas,” ujar mahasiswi semester dua ini. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.