Tips Berbisnis Kuliner Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Yovie Wicaksono - 27 April 2020
Pedagang kuliner dadakan menjual aneka makanan untuk takjil atau berbuka puasa di sekitar gedung DPRD Kabupaten Banyuwangi (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Surabaya – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) Tri Siwi Agustina membagikan sejumlah strategi usaha kuliner pada bulan Ramadan meskipun di tengah pandemik virus corona atau Covid-19.

Menurutnya, setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan oleh produsen. Pertama, fokus pada produk yang berpotensi dibutuhkan konsumen. Kedua, mempelajari perilaku konsumen. Ketiga menjaga stok dan bahan baku. Dan terakhir, memperhatikan kualitas.

Biasanya, ketika Ramadan, produk kuliner yang dicari konsumen adalah gorengan, makanan siap saji, kue, aneka minuman segar, hingga frozen food. Pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, jenis minuman yang dicari pasti akan bertambah. Terutama minuman berbahan dasar buah atau rempah yang dipercaya meningkatkan imunitas tubuh.

“Minuman seperti wedang uwuh, wedang jahe kunyit lemon, wedang sarabba, pasti akan sangat dicari,” kata Siwi.

Meskipun tengah menghadapi pandemi Covid-19, sifat konsumerisme masyarakat tetap tinggi, namun beberapa hal berbeda. Konsumen lebih mengurangi intensitas keluar rumah, sehingga beralih ke pembelian dalam jaringan (daring) atau online.

Dengan demikian, produsen kuliner harus memaksimalkan smartphone untuk aktivitas penjualan. Selain itu, menurut Siwi, konsumen pada kondisi pandemi mengutamakan kuliner yang menyediakan jasa layan antar atau bawa pulang (take away).

Masyarakat juga lebih menghendaki produk kuliner yang terjamin higienitasnya karena kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat. Untuk menjamin kebersihan produk, produsen bisa memberi informasi yang menyatakan suhu tubuh pembuat produk tersebut. Selain itu, media sosial juga dapat dipakai untuk menjelaskan kebersihan proses produksi hingga pengantaran.

Menurut Siwi, dalam kondisi pandemi seperti ini, konsumen cenderung ingin segera menyelesaikan tujuannya.

“Pastikan stok tersedia dan perhitungkan waktu pemrosesan dengan waktu pengantaran ke konsumen. Jangan sampai konsumen kecewa karena mendapatkan produk kulinernya melewati waktu berbuka puasa atau melewati jam makan sahur,” tuturnya.

Apabila konsumen memilih datang ke lokasi penjualan, sediakan produk kuliner dalam bentuk kemasan minimal dua jam sebelum waktu berbuka puasa. 

“Pikirkan juga cara pembayaran yang efektif, sehingga konsumen benar-benar hanya datang, mendapatkan produknya, membayar dan langsung pergi,” imbuh Siwi.

Sejak memasuki Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri, biasanya harga sembako tidak stabil. Selain harus mengantisipasi lonjakan harga tersebut, produsen juga harus jeli memperhitungkan jumlah order dengan ketersediaan stok dan bahan baku.

Di masa pandemi Covid-19, hal yang perlu dipertimbangkan untuk menjaga pasokan stok bahan baku adalah faktor transportasi. Karantina wilayah atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan berpengaruh pada waktu datangnya bahan baku yang dipesan. Hal tersebut selayaknya dipertimbangkan.

Selain itu, produsen harus berhati–hati dalam memilih bahan baku dan mengolah produk karena akan memengaruhi kualitas. Jangan sampai memilih bahan baku yang murah, tapi ternyata mendekati kadaluwarsa atau kualitasnya tidak terjamin.

“Alih–alih mendapatkan keuntungan berlebih dari bahan baku yang murah, yang ada malah menyebabkan gangguan kesehatan,” tandasnya.

Ketika mengolah produk pun juga demikian. Perhatikan ketahanan produk kuliner, jarak pengantaran, serta pengemasannya. 

“Jangan sampai karena ingin mengolah produk kuliner lebih awal, justru kualitasnya buruk dan tidak layak dikonsumsi serta beresiko pada kesehatan konsumen,” tandas Siwi. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.