Tarik Tambang hingga Gobak Sodor Adaptif bagi Penyandang Disabilitas

Rudy Hartono - 27 August 2025
Sejumlah penyandang tuna netra mengikuti lomba tarik tambang di Yayasan Raudlatul Makfufin (Taman Tuna Netra), Setu, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/8/2025). (foto: antara)

SR, Surabaya – Olahraga tradisional bukan hanya bagian dari warisan budaya, tapi juga ruang kebersamaan. Kini, semakin banyak upaya untuk mengadaptasi permainan dan olahraga tradisional agar dapat diikuti oleh penyandang disabilitas.

Tujuannya sederhana: menciptakan ruang inklusi, di mana semua orang bisa merasakan semangat kompetisi sekaligus kebersamaan tanpa batas.

Menurut Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI), olahraga tradisional memiliki nilai kebudayaan yang penting untuk dilestarikan. Dengan sedikit modifikasi, olahraga tersebut juga dapat menjadi sarana rehabilitasi fisik dan sosial bagi difabel.

Ilustrasi – Warga bermain permainan tradisional gobak sodor di Kelurahan Ketami, Kota Kediri, Jawa Timur. Gobak sodor bisa diadaptasi bagi penyandang disabilitas. (foto: antara)

Misalnya, permainan gobak sodor bisa diadaptasi dengan aturan pergerakan lebih sederhana bagi pengguna kursi roda. Begitu juga tarik tambang yang dapat dilakukan secara duduk, sehingga tetap menekankan kerja sama tim tanpa mengurangi esensi permainan.

UNESCO dalam laporannya tentang Traditional Sports and Games (2023) juga menegaskan bahwa olahraga tradisional berperan sebagai sarana inklusi sosial lintas kelompok, termasuk penyandang disabilitas. Adaptasi yang tepat membuat warisan budaya tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang semakin beragam.

Di Indonesia sendiri, sejumlah komunitas olahraga inklusif mulai mempraktikkan hal ini dalam festival budaya maupun kegiatan sekolah luar biasa. Upaya ini menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak seharusnya membatasi ruang gerak, karena esensi olahraga adalah kebersamaan, bukan sekadar kompetisi.

Olahraga tradisional yang inklusif membuktikan bahwa warisan leluhur bisa terus hidup—bahkan menjadi simbol kesetaraan. (*/dv/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.