Tari Gandrung hingga Sajojo Meriahkan Festival Budaya Nusantara Dapena
SR, Surabaya – Yayasan Dana Perguruan Nasional (Dapena) Surabaya menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, sebagai ajang kreasi siswa dalam melestarikan budaya Indonesia. Yayasan yang terdiri atas pendidikan TK, SD, hingga SMA, menghadirkan lebih dari 30 macam kesenian yang dikemas dalam giat Festival Budaya Nusantara, Sabtu (24/5/2025).

Mengambil tema “Pasar Tradisional”, panitia telah memasang penjor dari janur kelapa di gerbang luar sekolah sebagai ungkapan selamat datang bagi masyarakat luas. Memasuki gerbang dalam sekolah, pandangan mata telah disambut aneka tenant dengan aneka makanan khas Surabaya dan Jawa Timur. Di antaranya: lontong balap, nasi pecel, aneka sate, kudapan lopis yang semuanya diolah dan ditampilkan oleh siswa dapena.
Suasana sekolah Dapena menjadi semarak adanya tenda-tenda, dekor janur di beberapa sudut sekolah, siswa-siswi mengenakan aneka kostum dengan dadanan wajah berpoles warna-warni kosmetik, dan para guru perempuan mengenakan kebaya atau pakain adat lainnya bagi guru pria.

Selepas mencicipi sajian menu makanan dan minuman dari Pasar Tradisional, pengunjung bisa bercengkrama di tenda utama sambil menyaksikan aksi panggung yang diperankan siswa-siswa Dapena dari tingkat SD, SMP, dan SMA.
Dibuka dengan tari Remo, seni tari khas Surabaya, dilanjutkan tari Gandrung asal Banyuwangi, juga Sajojo seni tari dari Papua. Tak hanya seni tari, siswa-siswi Dapena juga menampilkan beberapa teatrikal seperti tari dolanan yang menggambarkan kekayaan mainan tradisional seperti cublak cublak suwung, musik patrol, dan sapu tangan, selain itujuga ada teatrikal serius mengambil kisah cerita rakyat yang sudah terkenal Roro Jonggrang.
“Semarak acara Festival Budaya Nusantara ini berkat dukungan semua komponen civitas akademi Dapena baik dewan guru, siswa-siswi, komite orang tua, bahkan alumni sehingga festival bisa digelar pagi hingga malam,” kata Josefine Elizabeth, ketua pelaksana Festival Budaya Nusantara Yayasan Dapena. “Atas dukungan itu kami ucapkan terima kasih tak terhingga,” imbuh Kepala Sekolah SMP Dapena 1 itu.
Ditanya bagaimana kegiatan ini muncul, Joice sapaan akrab Josefine Elizabeth. mengaku idenya berawal dari lontaran Sinta Nuriah Wahid, istri presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (almarhum), kala menghadiri undangan buka bersama di Yayasan Dapena, bulan Maret lalu.
Sinta mengaku risau dengan siswa-siswi saat ini yang mulai meninggalkan budaya tradisi lokal dan lebih memuja puji seni budaya luar negeri. Setelah berkeliling melihat aktivitas siswa-siswi Dapena, Sinta Wahid mengusulkan agar Dapena membuat kegiatan kreativitas yang dapat menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal.
“Lontaran Bu Sinta itu kami jadikan sebuah tantangan yang akhirnya kami wujudkan dengan mengambil momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, sekaligus Hari Pendidikan 2 Mei dan juga Hari Jadi Kota Surabaya 31 Mei, ” ungkap Joice, “Yang membuat kami semangat karena ide festival budaya mendapat dukungan dari banyak pihak, orang tua, yayasan, siswa, dan juga alumni. Praktis sebulan saja persiapan kepanitiaan dan latihan dilakukan anak-anak,” kata Joice.

Pada perhelatan Festival Budaya Nusantara ini hadir beberapa alumni seperti Djadi Galajapo, Pengasuh Panti Asuhan Rumah Sejati yang sempat anak asuhnya perfom menyumbangkan tari Sajojo, dan alumni pengusaha dekor dan sound system. Hadir Ketua Himpunan Penghayat dan Kepercayaan (HPK) Jatim KRT Sukariyo Spd, perwakilan Pramuka Kwarcab Surabaya dan Staf Ahli DPRD Kota Surabaya Ahmad Hidayat.
Aura Kebangsaan Terasa

Antusias siswa dan panitia penyelenggara festival budaya Nusantara Dapena terlihat dari kesungguhan dan keriangan saat tampil di panggung. Ada tari Remo oleh siswa SD yang penarinya pria belajar Remo otodidak via YouTube, kemudian tari Bang Ceng oleh siswa SD kelas yang mengaku berlatih hanya 3 hari menjelang pentas.
Ahmad Hidayat mengatakan kagum dengan semangat dapena dalam menggelorakan seni, budaya, dan adab berkebangsaan. “Saya terkesan dengan sikap para siswa dan guru, begitu ada aba-aba menyanyikan lagu kebangsaan saat pembukaan, semua siswa dan guru mengambil posisi berbaris rapi membentuk formasi dan sikap sempurna lalu bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jadi, vibe (aura) kebangsaan sangat terasa di sini (Dapena, Red),” kata Ahmad.
Ditambahkan, bahwa membangun spirit berkebangsaan seperti yang dilakukan Dapena tidak mudah dan tidak bisa diraih secara instan atau tiba-tiba karena kurikulum pendidikan nasional masih menitikberatkan pada nilai-nilai akademis. “Saat ini penting membangun kesadaran berbudaya, gotong royong, nilai-nilai Pancasila oleh lembaga pendidikan. Menurut saya, pintar matematika, mata pelajaran bisa dipelajari nomor sekian,”cetus Hidayat.
Ketua HPK Jatim KRT Sukariyo Spd juga memuji Yayasan Dapena yang dengan sadar menggelar kegiatan budaya nusantara di lingkungan sekolah dibandingkan seni kekenian yang seakan mengunggulkan seni budaya luar negeri. “Saya kira sekolah Dapena bisa menjadi contoh dan tolak ukur bagi sekolah lain dalam membangun karakter nasionalis dan jati diri kepada anak didik sebagai penerus bangsa di masa yang akan datang,” kata Sukariyo.
Ditambahkan, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke menyimpan ribuan seni dan budaya yang beraneka ragam dan spektakuler. Indonesia memiliki aneka alat dan seni musik, banyak seni drama, beragam dongeng atau cerita rakyat, seni karawitan, seni lukis, seni ukir, seni pahat dan masih banyak lagi. “Harapan saya, seni budaya nusantara ini bisa menjadi agenda rutin Dewan Pendidikan untuk dilaksanakan di setiap sekolah,” usulnya.

Sementara Seniman dan Pelawak Jawa Timur Djadi Galajapo itu mengaku sangat senang dan salut atas inisiasi sekolah Dapena yang menggelar acara Festival Budaya Nusantara. Mengingat arus informasi dari luar negeri, baik yang baik maupun negatif, tang tak bisa dibendung di era teknologi global saat ini.
“Penting mengenalkan adat dan budaya Nusantara agar siswa tahu dan bangga akan keluhuran bangsa Indonesia. Sesudah itu, watak dan karakteristik kebangsaan anak muda akan menumbuhkan spirit nasionalisme dan patriotisme,” ungkap alumni SMA Dapena II tahun 1984 itu.
Kurikulum Plus.
Mempersiapkan peserta didik yang berprestasi secara akademik sekaligus memiliki karakter yang beradab dan berkepribadian Pancasila.Perwakilan Yayasan Dapena, Istu Ningsih mengatakan pihaknya tengah menyusun program pendidikan “Kurikulum Plus” yang bertujuan mencetak lulusan yang berprestasi akademik dan juga menyiapkan generasi muda yang cinta bangsa dan Tanah Air.

“Untuk misi ini kami dalam satu tahun ajaran ini akan menyiapkan dua event, pertama mengambil momentum Hari Kebangkitan Nasional, dan kedua yang tengah kami persiapkan adalah “Festival Sejarah” yang waktunya mengambil momentum peringatan Hari Pahlawan di bulan November mendatang,” ungkap Istu.
Dipaparkan Istu, bulan November ada peristiwa sejarah yang membanggakan di antaranya peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato atau Hotel Mojopahit Surabaya juga pertempuran heroik pada 10 November 1945.
“Pada Festival Sejarah itu kami ingin membangkitkan jiwa cinta tanah air dan kebanggaan akan sejarah Surabaya. Kami ingin mengenalkan kepahlawan tokoh-tokoh Surabaya seperti presiden RI pertama Soekarno, perjuangan Cokro Aminoto, makam WR Supratman, makam Bung Tomo dan banyak lagi jejak sejarah Surabaya yang membanggakan,” pungkas Istu. (ton/lia/red)
Tags: dapena, festival budaya nusantara, Hari Kebangkitan Nasional, kurikulum plus, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





