Tak Terpengaruh Pandemi, Usaha Tanaman Hias Justru Menjanjikan

Yovie Wicaksono - 17 November 2021

SR, Kediri – Seolah tak terpengaruh dengan kondisi pandemi yang terjadi, peluang ekspor tanaman hias, dinilai cukup menjanjikan. 

Indikator tersebut dapat dilihat dari data  Kementerian Pertanian melalui Wilayah Kerja (wilker) Kantor Pos Kediri, Karantina Pertanian Surabaya yang mencatat kenaikan pesat sertifikasi karantina tumbuhan terhadap ekspor tanaman hias terjadi sejak kurun waktu 2 tahun terakhir.  

Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak mengatakan, dari data Indonesian Quarantine Full Automation System (IQFAST) Badan Karantina Pertanian, pada 2019, kegiatan ekspor tanaman hias yang dilalulintaskan melalui Kantor Pos Kediri hanya 13 kali dengan nilai Rp13 juta saja. 

“Sementara di tahun 2020 berhasil membukukan 2.772 kali dengan nilai Rp. 2,3 miliar dan tahun 2021 hingga Oktober 2021 ini melesat hingga 15.338 kali dengan nilai sebesar Rp. 11,9 miliar,” ujarnya saat membuka acara bimbingan teknis perkarantinaan tumbuhan untuk ekspor tanaman hias di Grand Surya, Kediri, Selasa (16/11/2021).

Ia mengatakan, adapun beberapa negara tujuan yang menerima kiriman tanaman hias dari Indonesia diantaranya Benua Eropa, Amerika, dan China. Setidaknya kurang lebih mencakup 70  negara.

“Dalam masa pandemi sektor pertanian diakui tetap menjadi penopang ekonomi Indonesia. Dapat dikatakan selama pandemi, ada bencana ada hikmah. Di luar negeri pada saat karantina, orang mulai memiliki hobi menghias rumah, memperbaiki rumah sehingga mereka mulai membeli barang-barang salah satunya tanaman hias,” ujar Musyaffak. 

Peningkatan ekspor tanaman hias ini juga tidak lepas dari dukungan dari semua pihak, ada karantina pertanian, PT Pos Indonesia, Bea Cukai dan Dinas Pertanian. 

“Tentunya disini karantina harus memberikan support yang tak tanggung-tanggung pada pengguna jasa agar tidak ada lagi Notification of Non Compliance (NNC) dari negara tujuan,” katanya.

Sub Koordinator Bidang Ekspor Benih, Aulia Nusantara menyampaikan, terkait dengan NNC dari beberapa negara seperti Eropa, Thailand, Jepang ini dikarenakan ada beberapa persyaratan negara tujuan yang tidak terpenuhi dalam  phytosanitary certificate. 

“Para eksportir tanaman hias mohon memperhatikan regulasi internal yakni dari Indonesia dan eksternal dari negara tujuan, agar tidak ada NNC lagi. Semakin banyak barang yang masuk, maka semakin ketat aturan, hal ini terjadi hampir di semua negara,” jelas Aulia.

Sekadar informasi, kegiatan bimbingan teknis perkarantinaan tumbuhan untuk ekspor tanaman hias ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari  pelaku ekspor tanaman hias di Kediri dan perusahaan jasa pengiriman. 

Kegiatan ini diharapkan bisa menambah informasi terkait tata cara dan aturan ekspor tanaman hias, sehingga bisa meminimalisir terjadinya NNC dari negara tujuan ekspor. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.