SW Nugroho : PDI Perjuangan Jatim Serius Kembalikan Kejayaan Rempah

Yovie Wicaksono - 17 March 2020
Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, SW. Nugroho. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – PDI Perjuangan Jawa Timur terus berupaya mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia. Salah satunya dengan menginisiasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perlindungan Obat Tradisional melalui Komisi E DPRD Jatim yang diketuai Wara Sundari Renny Pramana.

“Kita di DPRD Provinsi sudah memulai dengan Raperda dan saat ini masuk tahap pembahasan. Ini langkah awal. Nantinya tentu akan diikuti oleh kawan-kawan di kabupaten/kota,” ujar Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, SW. Nugroho, Selasa (17/3/2020).

Apa yang dilakukan PDI Perjuangan Jatim, kata Nugroho, sebagai bukti pihaknya serius dalam mengembalikan kejayaan rempah-rempah, sehingga dulu Indonesia menjadi rebutan dunia.

“Langkah awal setelah Rakornas, kita langsung menggelar Rakerda dengan mengumpulkan kawan-kawan legislatif dan eksekutif dari PDI Perjuangan seluruh Jawa Timur untuk kemudian kita mulai lebih berfokus untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah,” ujar Anggota Komisi B DPRD Jatim ini.

Sebelumnya, Anggota Komisi E DPRD Jatim Sri Untari mengatakan, pihaknya mendorong dan mengusulkan seluruh rumah sakit milik pemerintah provinsi, kabupaten/kota bisa menyediakan tempat atau unit layanan untuk penanganan obat Herbal. Hal itu dilakukan agar ramuan tradisional bisa menjadi alternatif pengobatan di rumah sakit.

“Indonesia ini kaya dengan aneka toga (tanaman keluarga, red). Khasiatnya juga luar biasa bagus. Sayang kalau ini tidak dimanfaatkan. Karena itu, kami minta ada unit layanan herbal di semua rumah sakit milik Pemprov Jatim,” ujar Sri Untari.

Sementara itu, menanggapi banyaknya masyarakat yang berburu rempah di tengah mewabahnya virus corona hingga mengakibatkan meroketnya harga, SW Nugroho mengatakan, hal tersebut sesuai dengan teori ekonomi.

“Saya pikir ini sudah teori ekonomi ketika permintaan tinggi sementara stok kecil, tentu kemudian harga akan naik dan barang kemudian langka. Ketika barangnya masih langka, kita tidak bisa berbuat banyak. Karena bagaimana misalkan kita disini mau kunir, kita mau operasi pasar ya susah karena barangnya terbatas,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya mendorong Dinas Perkebunan Jawa Timur mengalokasikan anggaran untuk pembibitan.

“Karena tidak mudah sekarang mencari bibitnya, tentu saja kadang ada beberapa tanaman yang kemudian sudah mulai langka ini harus dilakukan dengan baik dan sistim tanam yang modern, sehingga proses pertumbuhan tanaman akan lebih baik kemudian nantinya petani kalau menanam juga bisa menghasilkan yang optimal,” katanya.

“Saya kira ini hikmah dari kejadian ini, saya mempunyai keyakinan banyak petani yang memiliki kebun-kebun akan memanfaatkannya untuk itu, dan kalau untuk masyarakat kota itu bisa dilakukan secara hidroponik atau di polybag dan itu ada nilai ekonomisnya,” imbuhnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.