SURADAYA, Melihat Kota Pahlawan Dari Beragam Sudut

Yovie Wicaksono - 18 September 2026
Salah Satu Koleksi Foto yang Dipamerkan di Pameran SURABAYA, Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

SR, Surabaya – Wisma Jerman dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Surabaya kolaborasi menggelar pameran fotografi bertema SURADAYA. Bertempat di Orasis Art Space pameran akan dibuka untuk umum mulai Sabtu (19/9/2026) hingga Minggu (27/9/2026).

Direktur Institut Français Indonésie (IFI) Surabaya, Vincent Padaré mengatakan, pameran ini bukan sekadar catatan realitas yang netral, melainkan kebenaran yang dikondisikan oleh faktor-faktor seperti ketimpangan akses, sumber daya, and hak istimewa.

“Pointnya adalah menceritakan apa yang tidak terlihat di Surabaya, ujar pria yang menjabat sejak 1 September 2025 ini.

Baca Juga :
Direktur Institut Français Indonésie (IFI) Surabaya, Vincent Padaré Menyaksikan Foto yang Diabadikan di Alas Nusantata,Surabaya,Jumat (18/9/2026). Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari).

Sementara itu, Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber menyebut pameran ini menawarkan beragam sudut pandang kepada kita untuk melihat kota Surabaya dan orang-orang yang menghuninya.

“Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita untuk mempertimbangkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di Surabaya,”ujar pria kelahiran Stuttgart ini.

Sekadar informasi, pameran SURADAYA ini diikuti oleh 12 peserta dari berbagai latar belakang. Mereka adalah peserta terpilih setelah melalui berbagai proses pembelajaran dari lima mentor fotografer profesional.

Masing-masing peserta ini menampilkan beragam peristiwa di sudut kota Pahlawan, mulai dari makam peneleh, kompleks Sunan Ampel dan sekitarnya, wara wiri hingga suasana siaran di studio Super Radio.

Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber Membaca Narasi Foto yang Ditampilkan. Foto :(Super Radio/Nirwasita Gantari)

Salah satu mentor, Mamuk Ismantoro mengatakan, pameran ini merupakan “wisuda”setelah rangkaian proses pembelajaran yang dilalui.

Proses yang dilalui para peserta terpilih ibu tidak semudah yang dibayangkan. Terutama di fase dokumentari, yang memotret dengan narasi-narasi yang bisa “ditangkap” melalui foto.

“Pameran ini adalah sebagai upaya pengarsipan yang jarang disentuh sejauh ini, sekaligus sebagai identifikasi kota,”ujarnya.

Masyarakat yang ingin menyaksikan pameran ini tidak dikenakan biaya dan bisa datang mulai 11.00 hingga 18.00 WIB. (ng/red) 

 

 

 

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.