Siswi SMA Negeri 1 Kediri, Ciptakan Biofilter Berbahan Larva Lalat

Yovie Wicaksono - 19 May 2019
Di tangan Rifani dan Aulia Sintiya Maharani, larva lalat yang dianggap menjijikan dan tidak berguna, diubah menjadi biofilter. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Dua siswi kelas 10 SMA Negeri 1 Kediri, Jawa Timur, menyabet juara II event nasional lomba riset dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Di tangan Rifani dan Aulia Sintiya Maharani, larva lalat yang dianggap menjijikan dan tidak berguna, diubah menjadi biofilter yang membuat air keruh menjadi jernih dan layak pakai.

“Mentor kami memberi inspirasi bahan dari alam, yaitu tepung larva lalat hitam. Kemudian kami berdiskusi dengan mentor dan praktisi, bagaimana sih pemanfaatan dari tepung ini apakah bisa diolah menjadi sesuatu yang nilainya tinggi,” ujar Rifani saat ditemui Super Radio, di ruang Laboratorium sekolah, pada Sabtu (18/5/2019).

Rifani menjelaskan, larva lalat hitam memiliki kandungan protein yang tinggi di kisaran 45-55 persen. Protein itulah yang diolah menjadi ekstrak, kemudian menjadi kitosan.

Kitosan sendiri merupakan senyawa organik yang memiliki gugus aktif untuk mengikat atau menyerap logam berat seperti timbal dan tembaga.

“Kemudian setelah melakukan kajian pustaka, dan diskusi didapatkan hasil jika tepung lalat hitam itu, ternyata mengandung protein tinggi kisaran 45 hingga 55 persen. Dalam protein itu dapat diambil menjadi kitosan. Kitosan sendiri manfaatnya sangat banyak,” imbuhnya.

Selama enam bulan masa pembuatan bio filter, tingkat kesulitan pada saat melakukan proses adalah pengekresian Kitosan yang membutuhkan waktu cukup lama  dan metodenya panjang.

Setelah proses pengekresian kitosan selesai, Rifani dan temannya merasa metode tersebut sebenarnya cukup mudah.

Ia berharap, produk biofilter tersebut dapat dipergunakan secara mudah oleh masyarakat dan bermanfaat bagi lingkungan.

“Maka kami ingin membuat sesuatu, mengembangkan menjadi suatu produk yang dapat dipergunakan secara mudah oleh masyarakat. Sebelumnya kitosan kami hanya dibuat seperti serbuk lalu kami sebarkan begitu saja. Sedangkan menurut kami, itu sedikit kurang efektif, sehingga kita sedikit berinovasi untuk mengembangkannya menjadi biofilter dengan menggabungkan karbon aktif dan zeolite,” imbuhnya.

Sementara itu, guru pendamping Kartrindia Farid Nugroho mengatakan, latar belakang juri memberikan penilaian hingga menyabet juara II lomba riset dari Kementerian PUPR, karena bahan yang digunakan untuk penelitian sangat unik.

Kemudian  faktor penilai lainnya, yakni metode penulisan pemaparan mengenai penelitian bisa dijabarkan secara gamblang, jelas dan lengkap.

“Kementerian melihatnya ini bahannya unik. Kemudian ditulisnya pun sangat lengkap, mulai dari metode penelitian, kajian pustaka, hasilnya dan ada analisis laboratorium juga,” tandasnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.