Sirup Bogem, Minuman dari Tanaman Hutan Mangrove yang Kaya Manfaat

Yovie Wicaksono - 7 September 2021
Soni Mohson, Salah Satu Penduduk Wonorejo, Surabaya yang Berhasil Mengolah Sonneratia Caseolaris (bogem), Salah Satu Jenis Tanaman di Hutan Mangrove menjadi Sirup. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Tanaman mangrove yang selama ini dikenal sebagai benteng pencegah abrasi atau pengikisan pantai oleh gelombang air laut, serta tempat tinggal beragam spesies hewan, ternyata bagian buahnya bisa diolah menjadi sirup yang kaya akan manfaat. Adalah Soni Mohson, salah satu penduduk Wonorejo, Surabaya yang berhasil mengolah Sonneratia Caseolaris (bogem), salah satu jenis tanaman di hutan mangrove menjadi sirup.

Sirup Bogem juga diyakini memiliki banyak kegunaan, seperti untuk mengobati panas dalam, sariawan, batuk, dan flu. Sirup yang memiliki rasa manis dan asam ini, mengandung banyak vitamin C, karbohidrat, protein dan juga lemak. “Sirup bogem yang dikonsumsi dengan air hangat bisa mengobati demam, flu, batuk sariawan, pegal linu, dan lain sebagainya. Bisa juga dikonsumsi dengan air dingin untuk pelega dahaga,” ujar pria kelahiran Bojonegoro itu.

Dengan komposisi 1 kilogram buah bogem, 2 kilogram gula pasir dan 2 liter air, Soni bisa menghasilkan sekira 2,6 liter atau tujuh botol kaca berukuran 360 mililiter.

 

Untuk proses pembuatan, buah bogem yang telah dikupas dengan pisau stainless, direbus dengan 1 liter air. Setelah suhu 80 derajat celcius api dimatikan, lalu biji buah dipisahkan. Kemudian biji yang masih terdapat tempelan daging buah dibilas menggunakan air satu liter.

Setelah mendapatkan bubur cair yang belum memenuhi standar sirup, diperas menggunakan kain yang kemudian menghasilkan berupa cairan jernih. Lalu, cairan tersebut direbus dengan api kecil ditambahkan gula dua kilogram. Sirup telah jadi dan siap dikemas dalam botol kaca berwarna hijau. Proses pengolahan membutuhkan waktu sekira 3-4 jam.

“Itu sudah jadi sirup, tapi saat dicicipi hanya terasa asam sama manis, aroma bogem nya belum keluar. Oleh karena itu sirup yang sudah jadi perlu dikarantina terlebih dahulu minimal 24 jam untuk mengeluarkan aroma bogemnya. Ini kadaluarsanya sampai satu tahun kalau disimpan di suhu ruangan, kalau di lemari pendingin bisa lebih lama lagi,” katanya.

Di masa pandemi ini, Soni tidak membuat sirup setiap hari, melainkan membuat 2-3 kali dalam seminggu. Sebelumnya, ia bisa membuat sampai 100 botol perhari, sekarang hanya 30-50 botol saja.

Pria 60 tahun ini menegaskan, jumlah produksi sirup tidak menentu, karena bergantung pada panen buah bogem sendiri. Karena puncak panen terjadi pada Agustus, September, dan Oktober, Soni mensiasati dengan stok saat bulan panen.

Dengan memberdayakan masyarakat sekitar, Soni juga menerima hasil panen pengepul buah bogem yang jatuh ke tanah atau jaring yang sebelumnya telah dipasang dibawah pohon agar tidak merusak buah bogem yang ada disana.

“Jadi ada warga sekitar yang setor buah bogem ke saya, lalu nanti di bantu ibu-ibu untuk pengupasan buahnya sebelum kemudian saya olah menjadi sirup,” katanya.

Sirup bogem yang rutin diproduksi sejak 2004 ini telah mendapatkan hak paten merek dari Departemen Hukum dan HAM RI, PIRT dari Departemen Kesehatan dan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sempat dipasarkan melalui media sosial namun tidak berjalan maksimal, kini proses pemasaran lebih banyak mengandalkan “dari mulut ke mulut”.

Dibanderol dengan harga Rp 25 ribu per botol, sirup bogem ini banyak dipesan pelanggan dari berbagai daerah, tak hanya dari kawasan Surabaya Raya, melainkan juga dari Jakarta, Bengkulu, Maluku, Semarang, Lampung, bahkan warga negara asing yang sedang berkunjung ke Surabaya seringkali menyempatkan diri untuk mampir ke Wonorejo untuk membawa sirup bogem ini sebagai oleh-oleh. Sebesar 2,5 persen dari hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk rehabilitasi mangrove.

Tak hanya menjadi sirup, Soni juga mengolah buah bogem menjadi selai dan dodol. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.